Modal Sampah Organik, Ini Panduan Mudah Budidaya Maggot Bagi Pemula

Mengolah Sampah Organik Menjadi Maggot BSF - Sampah Limbah Organik seperti bekas sayuran dan buah-buahan dapat diolah menjadi ladang bisnis yang menggiurkan seperti bisnis yang mudah satu ini yakni budidaya Ternak Maggot dengan benar. Dilansir dari Tribunnews Jabar. Tim peneliti dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB membudidayakan maggot agar jadi solusi menangani limbah organik.

Maggot sendiri merupakan bentuk belatung dari black soldier flys hermetia illucens yang termasuk keluarga lalat. Ukurannya lebih besar dari lalat pada umumnya.

Hermetua illucens ini TIDAK menularkan bakteri, penyakit, bahkan kuman kepada manusia. Maggot akan menghasilkan larva, nantinya menjadi belatung atau maggot. Belatung ini hanya mengkonsumsi sampah organik seperti sampah sayur-sayuran dan buah buahan. Kemudian Limbah organik yang bau, akan dimakan maggot. nSelain itu Limbah itu sudah dapat menjadi pupuk premium untuk tanaman dan tidak berbau.

Penelitian lainnya adalah tentang BSF dimulai pada pertengahan abad 20 di peternakan ayam. Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa keberadaan larva BSF dalam kotoran ayam di bawah kandang ayam dapat mengurangi perkembangbiakan lalat rumah dan mengurangi akumulasi kotoran ayam. Para peneliti kemudian mempraktikkan gagasan ini dengan membuat perencanaan pembuatan lubang kotoran yang ramah BSF (dataran landai untuk prepupa keluar dengan sendirinya, akses untuk mesin pembersih, dan rumah hijau yang berdempet untuk imago/lalat BSF). Sebagian besar usaha pengolahan sampah dengan BSF secara profesional telah dimulai pada sistem pemberian makan yang terus menerus berdasarkan self-har-vesting prepupa (pupa keluar dengan sendirinya).

pakanj maggot terbaik bagi larva dewasa
Sampah Organik Di Pasar Tradisional
Baca Juga:
1. Ternak Maggot Modal Mulai 10 Ribuan
2. 6 Manfat Maggot Bagi Kehidupan

3. 5 Bisnis Paling Laris di Tahun 2019

Cara Mudah dan Terbaik Budidaya Maggot Dari Sampah Organik Pasar maupun Perumahan

Larva pada umumnya sangat toleran terhadap jenis makanannya. Namun, tetap penting untuk memastikan apakah sampah organik yang diterima di fasilitas sesuai untuk dimakan oleh larva. Sebagian besar bahan organik dengan kandungan air sebanyak 60% sampai 90% dan dengan ukuran partikel yang spesifik pasti akan dicerna. Larva sangat bergantung kepada mikroorganisme simbiotik yang menghancurkan struktur sel dan menyediakan nutrisi bagi larva. Namun, jika kualitas pakannya dibawah optimal, waktu perkembangan larva akan semakin lama, dan berat tubuh akhir larva akan lebih rendah. Maka sangat penting untuk memperhatikan hal-hal tersebut saat memandang fasilitas BSF dari sudut pandang ekonomi.

Panduan ini menggunakan asumsi bahwa “waste sourcing” atau pemetaan sumber sampah untuk fasilitas pengolahan sampah telah dilakukan dengan baik. Sampah organik harus benar-benar murni organik dan dapat diuraikan oleh bakteri/organisme hidup lainnya, serta harus memenuhi kriteria jenis-jenis sampah organik yang layak seperti yang telah disebutkan di atas.

Langkah pertama yang dilakukan setelah sampah diterima adalah mengecek kualitas sampah untuk memastikan tidak ada material berbahaya dan bahan non-organik yang terkandung di dalamnya. Beberapa kantung plastik yang ditemukan di dalam sampah mungkin bukan masalah besar karena dapat disortir dan dibuang secara manual. Namun, bahan berbahaya/kontaminan sama sekali tidak boleh ada karena dapat mempengaruhi seluruh organisme hidup: larva, bakteri-bakteri terkait, dan tentu saja para pekerja.

"Asam, pelarut, pestisida, deterjen, dan logam berat merupakan zat-zat yang termasuk dalam kategori berbahaya dan oleh karena itu harus dijauhkan apabila zat-zat tersebut berupa cairan atau larutan. Ini karena zat-zat tersebut dapat dengan mudah mengontaminasi bahan sampah secara keseluruhan. Jika sampah yang datang diduga mengandung kontaminasi tersebut, maka sampah tersebut harus ditolak."

Beberapa makanan BSF dari bekas sampah makanan yang disukai adalah segala bekas bentuk buah-buahan, sayuran, roti dan daging.

Apabila kualitas sampah sudah dipastikan, langkah selanjutnya adalah mengecilkan ukuran partikel sampah. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan mesin pencacah atau mesin palu pabrik (hammer mill) (Gambar 15). Teknologi apapun yang nantinya digunakan, alatnya harus dapat menghancurkan sampah menjadi partikel dengan ukuran diameter kurang dari 1-2 cm. Hal ini dapat membantu mempercepat proses karena bagian mulut larva tidak sesuai menghancurkan gumpalan sampah yang besar. Serta meningkatkan area permukaan dapat membantu perkembangan dan pertumbuhan bakteri yang berasosiasi dengan BSF.

Jika sampah yang dihancurkan memiliki kandungan air di atas 80% (sampah dengan kelembaban sebesar ini akan bertekstur seperti bubur, mirip dengan campuran buah yang dihancurkan dengan blender dapur), maka sampah tersebut harus dikurangi kadar airnya atau dicampurkan dengan sumber sampah lain yang lebih kering supaya kadar kelembabannya bisa kurang dari 80%.

Jika kandungan airnya di bawah 70%, maka perlu ditambahkan air. Kadar air ini dapat ditentukan dengan cara meremas segenggam sampah. Jika hanya ada beberapa tetes air yang muncul di sela-sela jari, maka sampah tersebut terlalu kering. Apabila sampah kering ditambah kelembabannya dengan air, air yang digunakan harus aman, yang artinya tidak mengandung patogen, logam berat, maupun bahan lainnya yang dapat mengurangi kandungan nutrisi dalam sampah.
Cara Sederhana Mengambil Telur  Magot Dari Alam
Mengenali Siklus Kehidupan Maggot BSF

Dalam siklus hidup BSF, telur menandakan permulaan siklus hidup sekaligus berakhirnya tahap hidup sebelumya, di mana jenis lalat ini menghasilkan kelompok telur (juga biasa disebut ovipositing). Lalat betina meletakkan sekitar 400 hingga 800 telur di dekat bahan organik yang membusuk dan memasukkannya ke dalam rongga-rongga yang kecil, kering, dan terlindung. Betina tersebut akan mati tidak lama setelah bertelur.

Kemudian telur-telur tersebut diletakkan dekat dengan bahan organik yang membusuk supaya saat menetas nanti, larva-larvanya dapat dengan mudah menemukan sumber makanan di sekitar mereka. Karena ditempatkan dalam rongga-rongga yang terlindungi dari pengaruh lingkungan, larva tersebut terjaga dari ancaman predator, serta sinar matahari langsung yang dapat menghilangkan kadar air pada telur. Pada umumnya, telur-telur tersebut menetas setelah empat hari. Larva yang baru menetas, yang berukuran hanya beberapa millimeter, segera mencari makan dan memakan sampah organik di sekitarnya. Larva akan memakan bahan organik yang membusuk tersebut dengan rakus, sehingga ukuran tubuhnya yang awalnya hanya beberapa millimeter itu akan bertambah panjangnya menjadi 2,5 cm dan lebarnya 0,5 cm, sedangkan warnanya menjadi agak krem.

Siklus Hidup Maggot BSF

Dalam kondisi optimal dengan kualitas dan kuantitas makanan yang ideal, pertumbuhan larva akan berlangsung selama 14-16 hari. Namun, larva BSF merupakan serangga yang memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi, yang mampu memperpanjang siklus hidupnya dalam kondisi yang kurang menguntungkan sekalipun. BSF hanya makan saat masih di fase larva. Maka, pada tahap perkembangan larva inilah mereka menyimpan cadangan lemak dan protein hingga cukup bagi mereka untuk berpupa sampai menjadi lalat, kemudian menemukan pasangan, kawin, dan bertelur (bagi betina) sebelum akhirnya mati.

Setelah melalui lima fase larva (lima instar), larva tersebut sampai ke fase prapupa. Saat bertransformasi menjadi prapupa, struktur mulutnya berubah menjadi struktur yang bentuknya seperti kait dan warnanya menjadi cokelat tua hinga abu-abu arang. Mulut berbentuk kait ini memudahkannya untuk keluar dan berpindah dari sumber makanannya ke lingkungan baru yang kering, bertekstur seperti humus, teduh, dan terlindung, yang aman dari predator. Di tempat inilah pupa menjadi imago dan kemudian terbang.

Pupasi merupakan proses transformasi dari pupa menjadi lalat. Tahap pupasi dimulai saat prapupa menemukan tempat yang cocok untuk berhenti beraktivitas dan menjadi kaku. Supaya proses pupasi berhasil, sebaiknya tempat memiliki kondisi lingkungan yang tidak banyak mengalami perubahan, atau dapat dikatakan tempat yang selalu hangat, kering, dan teduh. Pupasi memakan waku sekitar dua sampai tiga minggu. Berakhirnya pupasi ditandai dengan keluarnya lalat dari dalam pupa. Proses keluarnya lalat ini berlangsung sangat singkat. Dalam kurun waktu kurang dari lima menit, lalat sudah berhasil membuka bagian pupa yang dulunya merupakan bagian kepala, kemudian merangkak keluar, mengeringkan sayapnya lalu mengembangkannya dan terbang.

Setelah keluar, lalat dapat hidup sekitar satu minggu. Dalam masa hidupnya yang singkat, lalat akan mencari pasangan, kawin, dan bertelur (bagi para betina). Saat menjadi lalat, BSF tidak makan dan hanya membutuhkan sumber air dan permukaan yang lembab untuk menjaga tubuhnya agar tetap terhidrasi. Dalam fase hidup ini, yang terpenting adalah tersedianya cahaya alami yang cukup dan suhu yang hangat (25-32°C). Lingkungan yang lembab dapat memperpanjang lama hidup lalat sehingga dapat meningkatkan jumlah telur yang diproduksi. Menurut hasil penelitian, lalat jenis ini lebih memilih melakukan perkawinan di waktu pagi hari yang terang. Setelah itu, lalat betina mencari tempat yang cocok untuk meletakkan telurnya, seperti yang telah dijelaskan di atas.

Beberapa kondisi lingkungan dan sumber makanan yang optimal bagi larva dan perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:

1. Iklim hangat: suhu idealnya adalah antara 24°C hingga 30°C. Jika terlalu panas, larva akan keluar dari sumber makanannya untuk mencari tempat yang lebih dingin. Jika terlalu dingin, metabolisme larva akan melambat. Akibatnya, larva makan lebih sedikit sehingga pertumbuhannya pun menjadi lambat.

2. Lingkungan yang teduh: larva menghindari cahaya dan selalu mencari lingkungan yang teduh dan jauh dari cahaya matahari. Jika sumber makanannya terpapar cahaya, larva akan berpindah ke lapisan sumber makanan yang lebih dalam untuk menghindari cahaya tersebut.

4. Kandungan air dalam makanan: sumber makanan harus cukup lembab dengan kandungan air antara 60% sampai 90% supaya dapat dicerna oleh larva.


5. Kebutuhan nutrisi pada makanan: bahan-bahan yang kaya protein dan karbohidrat akan menghasilkan petumbuhan yang baik bagi larva. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampah yang telah melalui proses penguraian bakteri atau jamur kemungkinan akan lebih mudah dikonsumsi oleh larva.

6. Ukuran partikel makanan: karena larva tidak memiliki bagian mulut untuk mengunyah, maka nutrisi akan mudah diserap jika substratnya berupa bagian-bagian kecil atau bahkan dalam bentuk cair atau seperti bubur.

Perhatikan video dibawah ini:


Cara Pemilihan Tempat Pengolahan Maggot BSF

Pengetahuan akan siklus hidup di alam seperti yang dijelaskan di atas merupakan dasar dari fasilitas pengolahan sampah yang efisien dan dapat diandalkan dengan menggunakan larva BSF. Namun, untuk mengolah sampah organik secara teratur, seluruh siklus hidup BSF harus dikontrol sehingga dapat terbentuk suatu biosistem yang terancang dengan baik. Untuk membuat lingkungan yang hampir sama dengan habitat asli BSF sekaligus menjamin keberlanjutan pengolahan sampah, poin-poin berikut ini harus diperhatikan saat memilih tempat yang tepat untuk fasilitas pengolahan BSF:

Budidaya Maggot dengan kandang sederhana
Kandang Maggot Sederhana

1. Ketersediaan sampah segar dalam jumlah yang memadai dengan biaya rendah, dalam jumlah yang dapat diperkirakan, dan tersedia secara teratur.

2. Rute pengiriman sampah dan pengambilan residu harus dijaga dengan baik dan dapat diakses dengan mudah sepanjang tahun.

3. Sebaiknya menghindari pemakaian lokasi yang berpopulasi padat serta wilayah yang pengguna tanah sekitarnya tidak menerima adanya fasilitas pengolahan sampah.

6. Sebaiknya tersedia air dan listrik yang cukup untuk pengoperasian fasilitas.

7. Penyangga lingkungan (environmental buffer) yang cukup tersedia, yang dapat dapat berfungsi sebagai pembatas antara area fasilitas pengolahan sampah dengan area sekitarnya juga harus dijaga (misalnya lahan terbuka, pepohonan, pagar, dll).

8. Sebaiknya arah hembusan angin di fasilitas harus berlawanan dari daerah pemukiman.

9. Untuk praktisnya, perghitungan dapat berupa 50 m2 untuk nursery dan 100 m2 per ton sampah yang masuk setiap harinya.

10. Ruang untuk pembiakan masal BSF harus tertutup dan berventilasi, sedangkan love cage harus terpapar cahaya matahari.

11. Kontainer pengolahan harus teduh dan terhindar dari cahaya matahari langsung.

12. Sebaiknya ada kantor dan ruang laboratorium.

13. Sebaiknya harus ada toilet dan fasilitas kebersihan.

Cara Pembiakan Masal Maggot BSF

Unit ini digunakan untuk memelihara larva-larva kecil (disebut 5-DOL) agar selalu tersedia dengan jumlah yang konsisten dan dapat digunakan untuk mengolah sampah organik yang datang setiap harinya di fasilitas pengolahan tersebut. Namun, dalam unit pemeliharaan ini, jumlah larva yang menetas dibatasi dalam jumlah tertentu untuk menjamin kestabilan pembiakan populasinya.

Cara Penerimaan dan Prapengolahan Sampah Organik Untuk Maggot BSF

Hal yang sangat penting adalah memastikan bahwa sampah yang diterima di fasilitas tersebut cocok untuk menjadi makanan bagi larva-larvanya. Untuk itu, langkah pertama adalah mengontrol sampah untuk memastikan bahwa sampah tersebut tidak mengandung material berbahaya dan bahan non-organik.

Langkah selanjutnya adalah memperkecil ukuran partikel sampah, mengurangi kadar air jika tingkat kelembabannya terlalu tinggi, dan/atau mencampur beragam jenis sampah organik untuk menghasilkan makanan yang seimbang nutrisi dan kelembabannya untuk larva (70-80%).

Cara Pengolahan Sampah Untuk Maggot BSF

Di unit ini, 5-DOL dari unit pembiakan diberi makan sampah organik dalam kontainer yang disebut “larvero”. Larva yang memakan sampah organik ini kemudian tumbuh menjadi larva besar sehingga dapat mengolah dan mengurangi sampah.

Cara Memanen Produk Maggot BSF yang Benar

Tepat sebelum berubah menjadi prepupa, larva diambil dari larvero. Residu sampah yang tertinggal di larvero juga merupakan produk yang bernilai tinggi.

Cara Penanganan Pasca Pengolahan Maggot BSF

Apabila diperlukan, baik larva dan residu dapat diolah lebih lanjut untuk menyesuaikan dengan permintaan pasar lokal. Hal ini disebut “pemurnian produk”. Biasanya, langkah awalnya dilakukan dengan mematikan larva. Namun ada juga langkah lainnya untuk pemurnian larva, seperti pembekuan atau pengeringan, atau dengan memisahkan minyak larva dari protein larva. Sedangkan untuk pemurnian residu, biasanya dilakukan dengan pengomposan atau dimasukkan ke digester biogas untuk bahan produksi.

Untuk memastikan berlangsungnya pengolahan sampah secara teratur dalam jumlah yang dapat ditentukan, unit pembiakan harus menyediakan larva berusia lima hari (5-DOL) dalam jumlah tertentu setiap harinya. Maka, penting untuk mengontrol langkah-langkah produksi selama pembiakan serta memantau hasil dari setiap langkah. Pada nursery BSF yang dirancang dengan baik, jumlah prapupa yang dapat melakukan pupasi dapat dikontrol dengan mudah. Hal ini dapat membantu memperkirakan jumlah lalat yang nantinya akan muncul, yang juga akan menunjukkan perkiraan berapa banyak kelompok telur yang akan dihasilkan, berapa ekor larva yang akan menetas, dan berapa banyak dari larva-larva tersebut yang dapat digunakan untuk mengolah sampah organik.

Jadi pemantauan tingkat kelangsungan hidup pada setiap fase di siklus ini dapat memudahkan untuk mengetahui kinerja koloni lalat tersebut secara keseluruhan dan dapat menunjukkan masalah-masalah di tahap tertentu. Tingkat kelangsungan hidup kemungkinan dapat berbeda antara nursery yang satu dengan nursery yang lainnya.

Cara Yang Benar Dalam Penyimpanan dan Panen Telur Maggot BSF

Dari sudut pandang pengelolaan, penting bagi semua kelompok telur untuk dikumpulkan di satu lokasi. Hal ini akan sangat memudahkan saat pemanenan telur.

Untuk itu, kami melengkapi kandang-kandang dengan media yang sesuai (disebut “eggies”) untuk lalat-lalat tersebut bertelur, yakni media yang aman (yaitu rongga yang terlindung) untuk penyimpanan telur, serta “atraktan” atau substansi yang mirip dengan bahan organik yang membusuk sehingga dapat menarik para betina untuk meletakkan telurnya di sekitar sana. Setelah kelompok-kelompok telur sudah disimpan dalam eggies, telur-telur tersebut akan dipanen sebelum ada larva yang menetas.

Eggies merupakan Media yang digunakan dalam pembiakan massal BSF untuk mengumpulkan telur-telur yang dihasilkan lalat betina. Benda ini menyediakan rongga pelindung agar telur tidak berpindah posisi.

Idealnya, eggies yang kosong harus dibuat seringan mungkin untuk meminimalisir adanya kesalahan. Selanjutnya, eggies-eggies yang kosong, jika memungkinkan, harus memiliki berat yang sama sehingga saat menghitung berat eggies secara keseluruhan, berat dari masing-masing eggies juga dapat dihitung dengan mudah. Beberapa bahan eggies (seperti kayu dan kardus) dapat menyerap kelembapan di sekitarnya sehingga berat eggies tersebut bisa berubah dari waktu ke waktu. Maka, untuk menghindari kesalahan, eggies sebaiknya dibuat dari bahan plastik. Selain itu, disarankan juga untuk menggunakan eggies yang dapat digunakan berulang-ulang, yang dapat dibersihkan dengan cepat dan mudah, atau bisa juga menggunakan eggies sekali pakai.

Cara Penetasan Telur dan Pemberian Makan Untuk Larva Maggot BSF Yang Benar

Eggies yang baru dipanen dikumpulkan bersama eggies yang telah dipanen beberapa hari sebelumnya di “hatching container” terbuka yang memiliki sumber makanan bernutrisi tinggi. Kami menyebutnya “hatch-ling shower”.

Dalam beberapa hari larva akan menetas. Apabila eggies yang baru dipanen dikumpulkan dengan eggies yang lama, maka dipastikan akan terjadi “shower” atau penetasan secara terus menerus di nursery container. Setelah menetas, larva akan jatuh dari eggies dan masuk ke hatchling container di bawahnya, di mana mereka akan segera mulai makan.

Sumber makanan bernutrisi tinggi yang ada di hatchling container berisi pakan ayam yang dicampur dengan air. Kandungan air dalam campuran ini adalah sekitar 70%.

Pengelolaan sampah dengan larva BSF paling mudah dilakukan dengan larva yang seragam (memiliki usia dan ukuran yang sama). Hal ini dapat menghasilkan perencanaan yang lebih baik untuk pemasukan sampah, tingkat konversi, dan waktu panen. Dengan hatchling shower, jumlah dan usia larva dalam satu hatchling container dapat dikontrol dan ditentukan. Frekuensi penggantian hatchling container dapat menentukan keseragaman kelompok larva.

Semakin tinggi penggantiannya, semakin tinggi juga tingkat keseragaman larva-larva muda tersebut. Larva makan di hatchling container yang sama selama beberapa hari setelah menetas. 5-DOL tersebut kemudian diambil dari hatchling container lalu dihitung. Sebagian besar larva kemudian ditransfer ke unit pengolahan BSF di mana 5-DOL tersebut dimasukkan ke sampah.

Karena menghitung larva-larva kecil tersebut terlalu rumit, maka jumlah 5-DOL ditentukan dengan menghitung jumlah larva dalam sampel kecil (~2 g), yang kemudian diekstrapolasi berdasarkan berat total seluruh 5-DOL. Hanya sedikit dari keseluruhan 5-DOL (sekitar 2-5%) yang disimpan di unit pembiakan dan jumlah ini bergantung pada jumlah sampah yang akan diolah dan kinerja nursery.

Jika tingkat kelangsungan hidup dinilai tinggi dan jumlah telur yang dihasilkan oleh setiap betina tergolong banyak, maka jumlah 5-DOL yang perlu untuk disimpan dalam unit pembiakan semakin kecil.

Larva-larva yang disimpan ini ditempatkan dalam nursery container di mana mereka terus diberi makanan dengan campuran yang baik sampai berubah menjadi prapupa dalam kurun waktu sekitar dua minggu. Semua larva di satu nursery container akan berubah pada waktu yang sama mengingat umur larva tersebut juga sama. Prapupa akan berusaha meninggalkan sumber makanan untuk mencari tempat yang kering yang lebih cocok untuk melakukan pupasi. Untuk itu, nursery container diletakkan dalam transfer container yang telah dilengkapi dengan bahan yang kering dan mampu menyerap air.

Cara Penanganan Pupasi Maggot BSF Yang Benar

Prapupa yang telah keluar dan masuk ke transfer container lalu dipanen dan dipindahkan ke pupation container. Karena pupa merasa terganggu dengan adanya kelompok besar pupa lainnya, maka di kontainer tersebut terdapat substrat yang lembab dan seperti tanah (kompos) di mana prepupa dapat mengubur dirinya.

Untuk memfasilitasi proses pupasi, pupation container diletakkan di dalam kandang pupasi yang benar-benar gelap di bagian dalamnya. Kami menamakannya “dark cage” atau kandang gelap. Selain menyediakan lingkungan yang gelap, kandang ini juga melindungi pupa-pupa tersebut dari perubahan kondisi lingkungan (yaitu kelembapan, temperatur, pergerakan angin, dll.).

Setelah dua atau tiga minggu, material media pupasi menjadi sedikit kering. Hal ini memudahkan lalat-lalat untuk keluar dari kulit pupa menuju bagian atas dari tumpukan bahan tersebut dan kemudian terbang keluar dari pupation container, namun tetap berada dalam kandang gelap. Karena kondisi di dalam kandang yang gelap, lalat yang keluar tidak akan kawin, melainkan tetap diam tidak bergerak. Oleh karena itu, lalat-lalat di kandang gelap ini dapat dikatakan adalah sumber tetap penghasil lalat yang baru muncul, yang apabila dilepaskan di tempat terang akan segera bereproduksi.

Keluarnya lalat dimulai sepuluh hari setelah pupa dimasukkan kedalam kotak pupasi, lalu mengikuti kurva berbentuk lonceng dan diakhiri dengan beberapa lalat yang muncul setelah 25 hari.

Perhatikan Video Dibawah Ini:


Cara Perkawinan Maggot BSF

Setiap kali dibutuhkan, lalat yang keluar akan diambil dari kandang gelap. Hal ini dilakukan dengan cara menghubungkan. kandang gelap ini dengan sebuah terowongan yang tidak gelap dan tergantung pada bingkai yang dapat dipindahkan. Karena merupakan tempat di mana perkawinan terjadi, maka kami menamakannya “love cage” atau kandang kawin.

Pencahayaan yang dipasang pada ujung terowongan akan menarik lalat untuk terbang dari kandang gelap ke kandang kawin. Kandang kawin secara berurutan dihubungkan dengan tiga sampai empat kandang gelap untuk mengumpulkan lalat yang

baru keluar. Metode ini memungkinkan kepadatan lalat yang konstan dan stabil dalam kandang kawin. Selain itu, lalat-lalat yang telah diambil tersebut memiliki usia yang sama.

Ada manfaatnya apabila di kandang perkawinan terdapat lalat-lalat yang berusia sama, yaitu lalat-lalat tersebut akan kawin dan bertelur pada waktu yang kurang lebih sama, dan oleh karena itu, jumlah telurnya akan bisa diprediksi sehingga pembiakan masal dapat dilakukan dengan lebih efisien. Kandang kawin dilengkapi dengan kain basah untuk menjaga agar lalat-lalat di dalamnya tidak kekurangan kelembaban. Selain itu juga ada eggies dan sebuah kotak berisi atraktan. Maka, di sini siklus pemeliharaan berakhir

Cara Yang Benar Pengolahan Sampah Dengan Maggot BSF Yang Mudah Dan Benar

5-DOL dalam jumlah tertentu dipindahkan setiap harinya dari unit pembiakan masal BSF ke unit pengolahan sampah dengan BSF yang berisi sampah (yang kami sebut “larvero”). Larvero adalah Larvero adalah kontainer/wadah sebagai tempat larva diberikan makanan berupa sampah organik. Kontainer ini beraneka ragam ukurannya, mulai dari keranjang berukuran standar (60x40x15 cm) sampai wadah seukuran pallet, hingga bak beton yang berukuran besar.

Sedangkan 5-Dol adalah Singkatan untuk larva umur lima hari (Five Day Old Larvae). Larva yang baru menetas, apabila dipelihara di lingkungan yang terkontrol dan terlindungi selama lima hari, dapat meningkatkan kelangsungan hidup larva, sehingga larva lebih mudah untuk dihitung sebelum digunakan untuk mengolah sampah organik

Jumlah 5-DOL yang ditambahkan di sini bergantung pada jumlah sampah organik yang ada pada sebuah area permukaan dan dalam volume tertentu.

Ketika 5-DOL tersebut makan dan bertumbuh, pada hari kelima ditambahkan lagi sampah ke dalam larvero yang sama, kemudian ditambahkan lagi di hari kedelapan, sampai tubuh larva cukup besar untuk dipanen setelah diberikan makan selama 12 hari. Larva kemudian dipanen di hari ketiga belas. Berikut adalah parameter operasional yang kami anjurkan digunakan untuk unit pengolahan BSF:

a. 40.000 larva 5-DOL di setiap 1 m2 area pengolahan memakan 60 kg sampah organik selama periode 12 hari. Selagi larva memakan sampah tersebut, mereka akan menghancurkan bahan organik dan melakukan proses metabolisme terhadap nutrisi sehingga menjadi biomassa larva.

Jika sampah yang digunakan terlalu banyak, lapisan sampah yang tidak terolah dapat meningkatkan panas akibat adanya akitivitas bakteri, sehingga kondisinya tidak menguntungkan bagi larva. Makanan yang tidak tersentuh juga akan menarik perhatian lalat-lalat lainnya. Apabila jumlah sampah tidak mencukupi, larva akan kekurangan pakan sehingga baik kecepatan perkembangan larva maupun kapasitas pengolahan sampah di fasilitas akan menurun.

Menurut pengalaman sebelumnya, pemberian makanan yang sesuai untuk setiap larvero adalah tiga kali makan dengan jumlah yang sama selama periode 12 hari: pada hari pertama, kelima, dan kedelapan.

b. Jumlah sampah juga dibatasi oleh ketebalan lapisan sampah di larvero. Jika kedalaman sampah di dalam larvero lebih dari 5 cm, larva akan kesulitan untuk mengolah semuanya dan sampah yang berada di lapisan paling bawah tidak akan tersentuh.

c. Larvero dapat disusun bertumpuk menyilang satu sama lain untuk mengoptimalkan kebutuhan area permukaan. Namun, larvero harus tetap memiliki ventilasi yang baik supaya udara yang kadar kelembabannya sudah jenuh dapat berganti dengan yang baru.
Selain itu, ketersediaan oksigen juga sangat penting bagi kesehatan larva. Untuk itu, kami sarankan untuk tetap menyediakan ruang terbuka yang cukup di antara larvero yang disusun untuk memungkinkan aliran udara mengalir secara bebas.

d. Saran selanjutnya adalah meningkatkan sirkulasi udara di susunan larvero dengan menggunakan kipas pada beberapa hari terakhir. Hal ini dapat menciptakan aliran udara aktif di permukaan larvero sehingga dapat meningkatkan evaporasi. Ini juga akan menghasilkan residu sampah yang seperti remah yang nantinya akan mudah dipisahkan dari larva.
Namun, intensitas ventilasi aktif bergantung pada kelembaban udara dan kandungan kelembaban bahan awal. Maka, untuk mengetahuinya perlu dilakukan penilaian satu per satu di setiap konteks.

Secara historis, sistem pemberian makan yang dilakukan terus menerus (kontinyu) adalah hal yang disarankan untuk sistem pengolahan sampah dengan BSF. Sistem pemberian makan yang terus menerus ini memberi beberapa manfaat, khususnya saat menjalankan sistem kecil di “halaman belakang rumah” pada tingkat rumah tangga atau pemukiman.

Seluruh sampah organik yang terkumpul di suatu rumah tangga dimasukkan dalam sistem tersebut, dan sewaktu-waktu perlu dikosongkan. Hal ini bergantung pada infestasi alami BSF dan biasanya, prepupa akan merangkak keluar sendiri, baik menuju ke wadah pengumpulan prapupa maupun ke lingkungan luar di mana mereka akan dimakan oleh ayam-ayam yang berkeliaran, atau ke tempat aman di mana mereka memiliki kesempatan untuk berpupasi.

Namun, apabila sistem pemberian makan kontinyu ini ditingkatkan kela bisnis pengelolaan sampah yang besar skalanya, hal ini bisa berdampak buruk. Misalnya, kegagalan sistem karena penyakit, mikotoksin, atau pengaruh lingkungan, bisa menjadi risiko dan akan berakibat fatal terhadap seluruh unit pengolahan, sehingga perlu dilakukan pengosongan, pembersihan, dan pengulangan kembali. Selain itu, hasil protein juga bergantung pada self-harvesting.

Memang benar bahwa prepupa dapat keluar sendiri dan keuntungannya adalah mereka telah terpisah dari zat residu. Namun, sebagian besar prapupa tetap berada di bahan sampah sehingga akan menghasilkan populasi lalat yang tidak diharapkan dan menyebabkan kerugian panen.

Untuk pengelolaan sampah, kami pun menyarankan untuk memisah-misah risiko untuk mengantisipasi kegagalan dengan menggunakan kontainer pengolahan tunggal, yaitu larvero. Kami juga mengontrol siklus hidup BSF dengan cara menentukan jumlah dan usia larva, jumlah sampah yang digunakan, dan durasi proses pengolahan.

Perhatikan Video Dibawah Ini:


Cara Pemanenan Produk Budidaya Maggot Dari Sampah Organik Yang Benar

Cara 1:
Setelah 12 hari pengolahan sampah dengan larva BSF, setiap larvero dipanen. Di tahap ini, larva telah mencapai berat maksimal mereka, namun belum berubah menjadi prapupa. Nilai nutrisi mereka pun berada pada titik maksimal. Yang dimaksud dengan pemanenan adalah proses pemisahan larva dari residu. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan shaking shieve (ayakan bergetar) manual maupun otomatis sehingga larva dapat dengan mudah dipisahkan dari residu. Dengan frekuensi getar yang lebih tinggi, ukuran jaring dari mesin sieve (ayakan) tersebut bisa lebih besar. Hal ini karena larva akan kesulitan menempatkan diri mereka dan tidak dapat keluar dari jaring ketika frekuensi getarannya besar. Penggunaan shaking sieve otomatis dapat menghasilkan frekuensi getaran lebih tinggi daripada yang manual, sehingga shaking shieve otomatis lebih banyak dipilih.

Cara 2:
Pemanenan dapat dilakukan dengan penyaringan manual, sebuah ayakan berukuran sekitar 3 mm dinilai sudah sesuai. Saringan ini ditempatkan pada sudut tertentu dan isi larvero dituangkan seluruhya ke atas saringan. Selama diayak, larva akan tetap berada di atas saringan, sedangkan residunya akan jatuh ke tempat penadahan. Dengan sudut yang digunakan, larva diarahkan untuk menempati sudut yang rendah, yang terhubung dengan sebuah ember di mana nantinya larva akan jatuh dengan sendirinya.

Dalam kondisi tertentu, ketika kandungan air awal pada sampah lebih tinggi dari seharusnya (>80%), ketika dipanen larveronya akan berisi larva dan cairan seperti bubur yang berasal dari sisa pengolahan sampah, disertai dengan beberapa gumpalan yang tidak terproses (bukan residu sampah yang seperti remah kering).

Dalam kasus tersebut, disarankan menggunakan metode pemanenan menggunakan kasa datar tanpa getar dengan ukuran jaring 5 mm. Di bawah kasa tanpa getar tersebut diletakkan sebuah kontainer. Cairannya akan mengalir, begitupun dengan larvanya karena larva ingin menghindari cahaya matahari, lalu akhirnya jatuh ke dalam kontainer di bawahnya. Gumpalan residu yang lebih besar akan tetap berada di atas kasa dan nantinya akan dibuang. Dalam kontainer di bawah kasa datar, larva-larva yang sebagian besar mengapung, diambil menggunakan sendok penyaring, dibersihkan, lalu dipindahkan ke kontainer pengering dengan sabut kelapa atau beberapa bahan kering lainnya (seperti serbuk kayu).

Larva didiamkan di kontainer pengering selama sekitar satu hari. Di dalamnya mereka akan merangkak di antara bahan-bahan kering sehingga kulit mereka akan bersih dan memberikan waktu untuk larva mengosongkan isi perutnya, sehingga dapat menambah kualitas produk akhir yang dihasilkan.

Cara Penanganan Pasca-pengolahan Larva dan Residu Maggot BSF

Setelah dipanen, larva dapat dijual hidup-hidup ke pelanggan (misalnya orang-orang dari peternakan reptil atau pasar burung). Cara pemanfaaatan lainnya adalah dengan membuat pellet pakan. Larva yang baru dipanen dapat dicampur dengan bahan lain (sep-erti kedelai, sorgum, jagung, dll.) untuk membuat campuran yang memenuhi kebutuhan nutrisi hewan yang dituju (ayam pedaging, ayam petelur, beberapa spesies ikan, dll.). Campuran ini dapat dimasukkan langsung ke mesin pencetak pellet (pelletizer) yang akan mengompresnya menjadi pellet pakan.

Dalam kebanyakan kasus, larva masih memerlukan pengolahan lebih lanjut untuk memastikan mereka dapat disterilkan, disimpan, dan dikirimkan dengan mudah ke setiap pelanggan.

Pensterilan dilakukan dengan cara mematikan bakteri yang masih melekat di kulit larva dan mengosongkan isi perut larva (yang berisi residu yang hanya tercerna sebagian). Kami menyarankan untuk menggunakan air mendidih untuk hal ini. Mencelupkan larva ke dalam sepanci air mendidih selama sekitar dua menit dapat membunuh larva tersebut dengan cepat sekaligus mensterilkan produk yang dihasilkan.

Perlu diperhatikan!
Langkah pengolahan yang lain mungkin saja membutuhkan penghitungan dan alat yang berbeda, bergantung pada permintaan pasar dan kelompok pelanggan. Pembekuan dapat mempermudah penyimpanan, namun memakan banyak energi. Pengeringan (dengan panas matahari atau oven) dapat mengurangi kandungan air sekaligus meningkatkan durasi penyimpanan (kandungan kelembabannya pasti kurang dari 10%). Karena larva mengandung 30% minyak, maka periode penyimpanan yang lama untuk larva mati akan menyebabkan minyaknya berbau tengik.

Jadi untuk menghindari hal ini, larva yang sudah dikeringkan dapat dihilangkan minyaknya dengan menggunakan oil press atau mesin centrifuge. Dalam proses ini, minyak larva dipisahkan dari protein larva, yang kemudian dapat dikeringkan dan disimpan dengan lebih mudah. Kandungan minyak dalam protein larva harus kurang dari 10% supaya tidak rusak saat penyimpanan. Larva yang telah dihilangkan minyaknya memiliki kandungan protein sebesar ±60% dan lemak ±10% dan oleh karena itu dapat dijadikan sebagai pengganti makanan ikan untuk pakan hewan. Namun, formulasi dari keseluruhan pakan juga harus memperhatikan kebutuhan asam amino dari jenis hewan yang diternakkan.

Berbagai teknik pengolahan dibutuhkan untuk memproses residu supaya dapat menghasilkan kompos yang matang dan stabil. Pendekatan lainnya dapat pula digunakan untuk mengolah residu tersebut. Penggunaan residu untuk dikomposkan selama dua bulan adalah pendekatan yang paling sederhana. Opsi lainnya adalah memasukkan residu ke fasilitas vermicomposting untuk membesarkan (dan memasarkan) cacing, sekaligus untuk mendapatkan vermikompos yang stabil dan matang. Pilihan yang ketiga (dan terakhir) yang disarankan di sini adalah memasukkannya ke dalam digester anaerobic (reaktor biogas). Pilihan ini cocok apabila residunya memiliki kelembaban tinggi dan bentuknya seperti bubur.

Sumber:
Departemen Pengembangan Sanitasi, Air dan Limbah Padat. 2017. "Proses Pengolahan Sampah Organik dengan Black Soldier Fly (BSF)", Eawag – Swiss Federal Institute of Aquatic Science and Technology.


0 Response to "Modal Sampah Organik, Ini Panduan Mudah Budidaya Maggot Bagi Pemula"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel