Peluang Usaha, Panduan Praktis Beternak CacingTanah Pemula

Cacing tanah adalah sumber protein sangat tinggi dengan kadar sekitar 76%. Kadar ini lebih tinggi dibandingkan daging mamalia (65%) atau ikan (50%). Cacing tanah juga mengandung beberapa kadar komponen lain, seperti 17 % karbohidrat, 45 % lemak, dan abu 1,5 % (Flora, 2014), maka dari itu banyak sekali manfat yang dapat diambil dari cacing. Bagi dunia kesehatan cacing digunakan pengenalan imunologi, fibrinolytic, anticoagulative, antikanker, dan antimikroba, dan dengan demikian cacing tanah dapat berfungsi untuk mengobati berbagai penyaki bahkan produk berbahan dasar cacing.

Budidaya cacing tanah akan menghasilkan produk berupa cacing itu sendiri yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan memancing, pakan pada budidaya ikan secara langsung maupun diolah menjadi pelet, tepung cacing, obat-obatan, dan kosmetik (Warsa, 2000). Produk lain yang dapat pula dihasilkan dari budidaya cacing adalah pupuk cascing atau bekas cacing yang merupakan pupuk organik. Pupuk cascing diketahui memiliki kadar N 5-10%, kadar P 32,20 – 168,02 mg/100 g, dan kadar K 117,06 – 862,41 mg/100 g (Suyono, 2000). Kandungan N, P, K ini tentu sangat bermanfaat bagi petani khususnya dalam kontribusi kesuburan tanaman padi atau tanaman lainnya.

Panduan Praktis  Beternak CacingTanah Pemula


Budidaya cacing tanah sesungguhnya tidak memakan banyak waktu dan hanya menyediakan waktu memberi makanan dan memanennya saja. Tidak perlu membersihkan kandang dan sebagainya, seperti beternak hewan lain karena kotoran cacing akan berfungsi sekaligus sebagai pupuk organik yang berkualitas tinggi. Berdasarkan hal-hal tersebut, maka sangat baik apabila cacing ini dibudidayakan dan menjadi sumber pencahairan.

Kebutuhan akan cacing tanah dari hari ke hari semakin meningkat. Hal ini dikarenakan cacing tanah dapat dimanfaatkan sebagai bahan kosmetik, kesehatan/farmasi, pakan ikan, atau diambil manfaat untuk pembuatan pupuk organik. Daerah yang sesuai untuk pembudidayaan cacing tanah ini adalah daerah dengan potensi limbah organik yang besar, misal daerah pertanian, sehingga dapat menyediakan pakan dengan mudah dan murah dan desa maupun lahan sempit telah memenuhi kriteria dan kebutuhan tersebut.

Mengembangkan ternak cacing tanah secara profesional. Ternak cacing merupakan usaha agribisnis peternakan baru, dan masih jarang dikembangkan. Limbah peternakan telah menjadi persoalan yang sangat mengganggu lingkungan ternak cacing tanah dan sangat membantu dalam penguraian limbah peternakan dan limbah organik rumah tangga. Untuk menambah in come, dilihat dari analisa usaha yang dijalankan. Usaha cacing tanah memiliki potensi tinggi untuk dikembangkan.

Nah bagi anda yang hidup di Desa, Perkotaan Maupun Mempunyai Lahan Sempit budidaya cacing bisa dijadikan sebagai peluang usaha yang bisa anda tekuni

Kemudian, agar semua tujuan dapat dicapai, salah satu kunci dasar adalah penguasaan teknik budidaya cacing tanah. Ada beberapa hal yang perlu diketahui dalam usaha budidaya cacing tanah, yaitu:

Panduan Praktis  Beternak CacingTanah Pemula

1. Lokasi Pemiliharaan
Yang harus diperhatikan dalam memilih lokasi usaha:
a. Lokasi tersebut mudah untuk penempatan bangunan yang direncanakan;
b. Terdapat sumber air, terutama untuk keperluan pemeliharaan;
c. Mudah dijangkau dengan alat transportasi yang digunakan;
d. Tersedia bahan baku yang diperlukan, baik untuk keperluan bangunan maupun untuk operasional produksi;
e. Diterima oleh masyarakat

2. Bangunan dan Wadah Pemeliharaan
Bangunan untuk budidaya cacing tanah dapat dibuat sesuai dengan selera dan kebutuhan yang direncanakan atau yang dilaksanakan, dari yang sederhana sampai pada bangunan yang kokoh dan permanen. Yang penting bangunan yang dibuat memenuhi syarat fungsinya, yaitu:
1) Mempermudah kita melakukan tatalaksana pemeliharaan;
2) Tempat menyimpan sarana dan prasarana produksi;
3) Pelindung dari terik matahari dan hujan;
4) Pengendalian hama. b. Wadah Pemeliharaan

Wadah pemeliharaan digunakan untuk menampung media hidup cacing tanah. Bahan yang digunakan dapat berupa apa saja sesuai dengan keadaan. Yang perlu diperhatikan adalah:
1) Wadah tidak melepaskan zat racun;
2) Tidak mudah lapuk, tahan lama;
3) Tersedia sepanjang waktu di tempat usaha;
4) Harganya relatif murah;
5) Tidak bersaing dengan kebutuhan lain;

c. Benih Cacing Tanah
Jenis cacing tanah yang terdapat di alam jumlahnya ribuan, namun di antara jenis tersebut hanya 6 jenis yang dapat dibudidayakan secara komersial. Dari 6 jenis tadi, seluruhnya sudah ada di Indonesia, yaitu jenis: Lumbricus rubellus, Malaccus sp., Pheretima asiatica, Perionyx excavatus, Eisenia fetida, Eisenia andrei.

d. Media dan Pakan Cacing Tanah
1) Media
Untuk keperluan media, bahan organik yang akan digunakan harus difermentasi terlebih dahulu. Caranya:
- Bahan organik dikumpulkan dari sumbernya yang berukuran besar dicincang berukuran 5-10 cm.
- Diaduk agar merata komposisinya.
- Ditumpuk kurang lebih 1 m3 atau dimasukkan ke dalam karung resap air.
- Pada 4 hari pertama diaduk (dibalik) agar proses fermentasi berlangsung menyeluruh dan tumpuk lagi, kemudian dibalik lagi setiap 3 hari sekali.
- Setelah 15 hari fermentasi dibongkar, kemudian diaduk merata dan dibiarkan terkena udara bebas selama 5-7 hari, sambil dimasukkan (dipersiapkan) ke dalam wadah pemeliharaan yang akan digunakan.
- Ketinggian media pada awal pemeliharaan 5-10 cm apabila sejak ditanam diberi pakan atau ketinggiannya 10-20 cm apabila pemberian pakannya mulai hari ketiga.

Contoh bahan organik yang baik untuk pembuatan media:
- Semua limbah ternak, seperti: sapi, kerbau, kuda, kelinci, domba (sisa pakan dan fecesnya);
- Limbah rumah tangga;
- Limbah pertanian;
- Penggergajian;
- Limbah penggilingan padi.
Yang perlu diperhatikan dalam pembuatan media adalah komposisi bahan yang akan digunakan memenuhi syarat kandungan C/N ratio 25-30.

f. Pakan Yang Baik Untuk Ternak Cacing
Bahan organik yang akan digunakan untuk pakan cacing tanah sebaiknya yang mengandung nutrisi yang dibutuhkan sesuai dengan tujuan produksi. Untuk cacing tanah masa pertumbuhan, bahan pakan yang digunakan mengandung protein yang lebih tinggi. Sedangkan untuk cacing tanah yang sedang produksi (dewasa) bahan pakan yang diberikan mengandung lebih banyak karbohidrat dan serat, agar merangsang peneluran.

Proses pengolahan bahan organik untuk pakan dan cara pemberiannya adalah sebagai berikut:
- Bahan yang berukuran besar, dicincang menjadi 2-5 cm atau dibubur;
- Fermentasi selama 3 hari;
- Aduk agar homogen
- Kandungan air diusahakan agar tidak terlalu tinggi, cek dengan cara diperas. Bila hasil perasan hanya menetes pelan tandanya cukup.
- Siapkan untuk diberikan pada cacing tanah yang dipelihara;
- Berikan seberat cacing tanah yang dipelihara selama 24 jam, berdasarkan kadar bahan kering 25 %. Caranya ditabur merata di atas permukaan media;
- Keesokan harinya diperhatikan apakah pakan habis dikonsumsi atau terjadi penggumpalan;
- Pemberian pakan dilakukan setiap hari (24 jam) sekali. Sebelum pemberian pakan berikutnya, permukaan media diaduk agar pakan sisa tercampur merata.

Cara Yang Benar Dalam Pemeliharaan Cacing Tanah
a) Pemeliharaan cacing tanah dimaksudkan untuk mengatasi masalah gangguan, baik biologis, fisik, kimiawi maupun teknis. Secara umum, pemeliharaan ditujukan pada perawatan bangunan, wadah, media, pakan, dan serangan hama.

b) Pemeliharaan bangunan difokuskan apakah msih berfungsi dengan baik. Apabila terjadi kebocoran atap harus segera ditanggulangi.

c) Pemeliharaan wadah difokuskan pada kelayakan pakai media tersebut. Bila ternyata ada bagian yang terbuka atau pecah, segera diperbaiki, karena dapat menyebabkan cacing keluar dari media.

d) Pemeliharaan media difokuskan pada kondisi lingkungan kimia fisiknya, yaitu: suhu, kelembabab, keasaman dan kesegaran. Sebagai patokan dapat dilihat kondisi media yang baik adalah sebagai berikut:
1) suhu berkisar 23-30 oC;
2) Kelembabab berkisar netral, 40-50 %; 3) Keasaman berkisar 6,8 -, 7,2; Kesegaran dapat dirasakan, yaitu terasa remah atau empuk.

e) Pemeliharaan pakan ditujukan agar pakan selalu habis tepat waktu dan hindari kekurangan berkelanjutan. Bila ternyata tidak habis tepat waktunya dn menggumpal, secepatnya diaduk atau diremahkan dan disebar di seluruh bagian permukaan.

f) Pemeliharaan cacing tanah dari serangan hama dilakukan untuk menjaga agar hama tidak secara terus-menerus menyukai. Hama cacing tanah di antaranya: tikus, semut, katak darat, kadal dll. Namun hama yang sering ditemukan adlah semut. Ini dapat diatasi dengan pengadukan dan penyiraman media.

Sebagai tambahan ada beberapa informasi yang mungkin anda butuhkan seperti beberapa permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh pembudidaya cacing antara lain:
1. Matinya cacing karena kering atau media kurang air, maka sebaiknya media cacing tidak boleh kering jika terlihat kering segera disiram dengan air.

2. Hilangnya cacing karena dimakan tikus, kadal, katak dan semut, sebaiknya untuk menghindari atau mengatasi hama tikus, kadal, katak atau semut, maka
kandang bisa digantung dan ditaburi kapur.

3. Hilangnya cacing karena keluar dari media. Cacing keluar dari media, artinya cacing tidak cocok dengan medianya sehingga media harus diganti atau diberi lampu karena cacing tidak suka suasana terang sehingga jika kena terang dia akan masuk lagi, semut dibawah sehingga semut tidak naik dan jika perlu ditambah juga dengan jebakan tikus.

4. Media yang terlalu padat. Jika media terlalu padat, maka perlu diurai. Selain supaya lebih gembur juga memasukkan oksigen ke dalam tanah.

5. Jika cacing kurus-kurus kemungkinan makanan tidak cocok, maka makanan bisa diganti dengan yang lain yang kaya protein.

6. Kurang waktu untuk memilah. Cacing hendaknya dipilah antara yang kecil dan yang besar sehingga dapat ditentukan mana yang bibit dan yang afkir sehingga dapat menentukan mana yang bisa dijual langsung sebagai pakan, sebagai bibit atau dijadikan bahan tepung.

Panduan Praktis  Beternak CacingTanah Pemula


Meski agak sulit, budidaya cacing tanah ternyata masih menguntungkan. Sebenarnya hasil yang diperoleh dapat lebih besar lagi bila tidak ada kendala-kendala yang menghambat pelaksanaan budidaya tersebut. Adapun kendala-kendala tersebut di antaranya adalah:

Kesulitan mendapatkan bibit cacing yang unggul, baik dlam produksinya maupun ketahanan tubuhnya. Seharusnya apabila memakai bibit unggul 1 kg cacing tanah, bisa menghasilkan 10 kg cacing baru. Namun dalam proyek ini cacing yang digunakan hanya bisa menghasilkan 3 kg cacing baru. Dengan demikian berdampak pada keuntungan yang relatif kecil.

Adanya ketertutupan dalam jaringan pemasaran. Hanya anggota koperasi saja yang boleh mendapatkan bibit unggul dan produksinya dari dan ke koperasi. Karena sulitnya menembus jaringan pemasaran tersebut, maka keuntungan menjadi berkurang. Untuk mengatasi hal ini, sebaiknya peternak baru terdaftar dalam keanggotaan koperasi agar memperoleh kemudahan mendapatkan bibit unggul dan dalam memasarkan produknya.

0 Response to "Peluang Usaha, Panduan Praktis Beternak CacingTanah Pemula"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel