Modal Jutaan Raup Ratusan Juta, Alipudin Ternak Murai Batu

Berawal dari satu pasang burung yang ditangkar, seiring berjalannya usahanya terus berkembang. Berawal dari sepasang burung yang ditangkar pada tahun 2014, sekarang Alip telah memiliki sembilan betina dan tujuh pejantan. Salah satu dari tujuh pejantan terdapat yang diternak dengan sistem poligami. “Poligami dapat dilakukan dalam beternak Murai Batu. Namun me sti memahami karakter burung. Jika tidak poligami dijamin gagal,” tuturnya, dilansir dari kebumenekspres.

Alip melanjutkan, sebelum beternak Murai Batu, pihaknya sudah menengkarkan sejumlah burung. Dimulai dari Kenari, Kacer. Koci, Love Brid sampai akhirnya sampai untuk Murai Batu. Alasan sangat mendasar, harga Murai Batu setabil bila dikomparasikan dengan burung lainnya. “Kalau harga burung dapat tinggi dan dapat juga anjlok dengan singkat. Namun guna Murai Batu, ingin lebih stabil,” katanya.

Perawatan Murai Batu termasuk gampang-gampang susah. Intinya burung dapat hidup dan berkembang biak manakalan merasa nyaman dan terpenuhi segala kebutuhanya. Untuk tersebut suasana alam laksana suara gemercik air, penyinaran dari sinar matahari serta suhu yang stabil butuh diperhatikan. “Makanan dapat berupa Jangkrik, Ulat Hongkong dan kroto. Adapun ukuran kandang yaitu panjang 2 meter lebar 1 meter dan tinggi 2 meter,” jelasnya.

Menangkar burung dari penjodohan jika mulus seminggu sesudah dijodohkan burung bisa bertelur. Namun andai kondisi sedang tidak beruntung enam bulan ditangkar burung belum pun mau berjodoh lagipula produksi. Setelah bertelur, burung akan melakukan masa pengeraman selama 12 hari. Seminggu setelah anak dipungut dan diloloh dengan bantuan sendiri. “Kalau telah jalan sebulan sekali dapat panen anakan. Sepasang lazimnya akan menghasilkan anakan tiga ekor,” tegasnya.

Disinggung tentang harga, Alip sendiri menuliskan tidak terdapat patokan pasti. Namun guna anakan usia satu minggu harga selama Rp 1 juta. Bagi indukan paling bervariasi mulai dari Rp 7 juta perpasang sampai tak terhingga. Semua tersebut melihat kualitas dan kuantitas burungnya. “Di samping beternak kami pun menjual gelang sekian banyak jenis burung. Mulai dari gelang merpati sampai kolibri.” ucapnya.

Terpisah dari kabar diatas, begini cara ternak murai batu dari menurut beberapa para pakar:

cara mudah ternak murai batu kelas

Cara Ternak Murai Batu dan Reproduksi Murai Batu

Murai batu (Copsychus malabaricus) merupakan salah satu burung berkicau terbaik di dunia yang termasuk anggota Turdidae. Burung dari keluarga turdidae memiliki kemampuan berkicau yang baik dengan suara merdu, bermelodi, dan sangat bervariasi (Forum Agri, 2012). Menurut Ma’ruf (2012), berbagai jenis burung Turdidae umumnya mempunyai pola penampilan warna yang beragam dan menarik. Ukuran tubuhnya rata-rata sedang, kepalanya bulat, kakinya agak panjang, paruhnya runcing dan ramping, dan sayapnya lebar.

Hampir semua jenis burung yang termasuk dalam keluarga Turdidae merupakan burung peniru dan memiliki suara yang bagus. Jenis-jenis burung yang termasuk dalam keluarga Turdidae adalah cingcoang, kucica, meninting, tiung, anis, dan kacer (Ma’ruf, 2012). Menurut Putranto (2011), kacer merupakan salah satu kerabat dekat murai batu. Kacer mempunyai nama ilmiah Copsychus saularis termasuk dalam phylum Chordata, ordo Passeriformers, family Muscicapidae, dan genus Copsychus. Habitat asli burung kacer adalah di hutan terbuka dan kebun dekat pemukiman penduduk.

Murai batu (Copsychus malabaricus) merupakan salah satu burung berkicau terbaik di dunia yang termasuk anggota keluarga Turdidae. Murai batu lebih banyak dijumpai di dataran rendah sampai ketinggian lebih dari 1.000 m dpl (Forum Agri, 2012).

Burung ini biasanya banyak ditemukan di kawasan hutan dengan pepohonan rimbun tapi tidak terlalu tinggi, dan berada dekat dengan sumber air seperti sungai atau danau yang digunakan oleh burung untuk mencari serangga, mandi, minum, dan mencari pasangannya pada saat musim kawin. Daerah penyebarannya meliputi dari Cina, Andaman, hingga Kepulauan Indo-Australia. Pada wilayah Indonesia, murai batu banyak terdapat di Pulau Sumatra, Kalimantan, dan sebagian kecil daerah di pulau Jawa (Doni, 2012).

Burung murai batu cenderung memilih hutan sekunder atau hutan alam yang rapat sebagai habitatnya. Burung murai batu merupakan kelompok burung yang dikenal sebagai teritorial dan sangat kuat dalam mempertahankan wilayahnya (Thruses). Jenis teritorinya tempat untuk bersarang, perkawinan dan tempat mencari makan (Mua’rif, 2012).

Pada umumnya di Indonesia lebih mengenal burung murai batu pada satu jenis saja, yaitu sub-spesies Copsychus Malabaricus Tricolor (White-rumped Shama). Menurut Dewanto dan Sitanggang (2008), sub-spesies ini mempunyai corak tiga warna, yaitu hitam, cokelat dan putih. Warna dominan pada kepala, leher punggung dan ekor umumnya berwarna hitam. Warna dada dan perut berwarna cokelat, sedangkan punggung bagian bawah (pantat) dan bulu ekor sekunder berwarna putih.

Lebih lanjut Akdiatmojo dan Sitanggang (2008) menyatakan bahwa jika dilihat dari postur tubuhnya, rata-rata murai batu jantan mempunyai ukuran tubuh yang relatif panjang yakni sekitar 25 cm, sedangkan murai batu betina mempunyai panjang tubuh sekitar 18 cm. Bagian ekor murai batu lebih panjang ketimbang badannya. Bagian ekornya sendiri terbagi menjadi dua bagian. Ekor bagian luar berwarna hitam, ukurannya lebih panjang dan jumlahnya 8 helai, sedangkan ekor bagian dalam berwarna putih dengan jumlah 4 helai dan berukuran lebih pendek. Ketika sedang terkejut atau sedang berkicau, bagian ekor tersebut akan berdiri tegak dan bergerak naik turun sehingga akan terlihat menarik.

Menurut Forum Agri (2012), secara umum ciri-ciri fisik burung murai batu adalah kepala warna hitam, leher depan, belakang, dan samping seluruhnya berwarna hitam, punggung warna hitam, sayap warna hitam, ekor bagian luar warna hitam, ekor bagian dalam warna putih, dada warna merah bata, perut warna merah bata, dan kaki sama dengan burung pada umumnya.

Murai batu dari Tanjung Redep, Kalimantan Timur menpunyai keunikan di bagian kepalanya yang bergaris putih memanjang ke belakang. Murai Kalimantan memiliki ekor lebih pendek dengan panjang sekitar 8--12 cm, sementara murai batu Sumatra 15--20 cm. Ciri khas murai batu Kalimantan lainnya adalah apabila berhadapan dengan jenisnya akan menggelembungkan bulu-bulu di sekitar dadanya sambil berkicau (Warsito, 2009).

panduan cara mudah ternak murai batu


Perkembangbiakan Burung Murai Batu

Siklus kehidupan murai batu di alam liar diatur oleh perubahan iklim. Selama musim hujan, dimana air hujan turun hampir sepanjang hari, merupakan masa- masa tersulit bagi murai batu untuk mencari pakan hidup seperti serangga. Oleh karena itu, burung mengatur perkembangbiakan dan masa rontok bulu (mabung) nya pada masa sebelum musim hujan. Hal ini terjadi karena pada masa-masa tersebut persediaan makanan di alam berlimpah sehingga kebutuhan nutrisi mereka dapat terpenuhi.

Aktivitas perkembang biakan burung-burung tropis, termasuk murai batu dimulai pada akhir musim hujan antara bulan Januari dan berlanjut sampai akhir Agustus (Suminarsih, 2006). Bersamaan dengan perkembangbiakan tersebut, burung juga mengalami periode tahunan pergantian bulu yang ditandai oleh rontoknya bulu- bulu lama untuk digantikan dengan bulu-bulu baru (mabung) dan proses ini akan paripurna sebelum musim penghujan mendatang tiba.

Menurut Mu’arif (2012), perkawinan murai batu yang ditangkarkan tidak mengenal musim kawin. Setelah berjodoh dan dimasukkan ke dalam kandang penangkaran, biasanya langsung kawin dalam waktu relatif singkat yang ditandai kedua pasangan membawa bahan sarang. Biasanya perkawinan tersebut terjadi setelah 7--10 hari dipasangkan. Murai batu dapat bertelur 2--3 butir dalam sekali pengeraman. Induk murai batu yang masih muda, biasanya bertelur hingga 3 butir, sedangkan murai batu yang sudah tua hanya bertelur 2 butir (Jalil dan Turut, 2012).

Suminarsih (2006) menyatakan bahwa umumnya burung berkicau, murai yang ditangkarkan mengerami telurnya selama 14--15 hari. Masa mengeram bisa dikatakan masa kritis karena telur yang dierami bisa pecah atau dibuang dari sarang jika ada yang membuatnya ketakutan. Oleh karena itu, lingkungan harus dijaga dari gangguan dan tetap terkendali.

Menurut Jalil dan Turut (2012), murai batu termasuk hewan poligami karena satu murai batu jantan dapat dikawinkan dengan 2--3 ekor betina. Namun, pada umumnya murai batu ditangkarkan secara monogami untuk menghindari perkelahian antar murai batu dalam satu kandang dan mempermudah dalam melakukan recording.

panduan cara menjodohkan murai batu lengkap


Cara Manajemen Pemeliharaan Murai Batu

1. Pakan dan Minum
Pakan merupakan segala sesuatu yang dapat dimakan oleh ternak, dapat dicerna sebagian atau seluruhnya, dan tidak mengganggu kesehatan ternak (Fathul,2014). Menurut Turut (2011), murai batu membutuhkan nutrisi yang cukup untuk menunjang aktivitasnya. Agar kebutuhan nutrisinya terpenuhi, murai batu perlu diberikan pakan yang segar dan bervariasi. Murai batu juga perlu diberikan vitamin untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya. Pemberian pakan tidak boleh dilakukan sembarangan karena berkaitan dengan keseimbangan unsur gizi yang dibutuhkan oleh tubuh burung untuk berproduksi secara optimal.

Menurut Widyaningsih (2008), makanan umum murai batu di alam bebas adalah serangga kecil seperti telur semut, belalang, ulat daun, dan sebagainya. Namun, ketika sudah dalam penangkaran atau dalam perawatan manusia, pakan yang diberikan bisa berupa pakan alami, pakan buatan, atau pakan campuran antara pakan alami dan pakan buatan.

Kroto atau telur semut rangrang merupakan pakan dari jenis serangga yang sangat disukai burung, termasuk murai batu. Untuk murai batu, kroto yang diberikan adalah kroto basah, yakni bagian telur dan larva semut. Kroto yang diberikan juga harus berkualitas, yakni tidak berbau, tidak terlalu lengket, berwarna cerah, tidak bercampur dengan jenis semut lain, dan tidak mengandung larva yang berukuran besar (Widyaningsih, 2008).

Menurut Forum Agri (2012), untuk mengurangi risiko atau efek samping dari pemberian kroto secara berlebihan, sebagian pemelihara murai batu lebih senang memberikan pakan buatan atau pelet sebagai pakan harian. Pemberian pakan buatan berbentuk pelet juga sangat efektif untuk mengganti keberadaan pakan kroto yang pada saat musim penghujan datang relatif sulit didapatkan di pasaran, atau harganya menjadi lebih mahal. Bahan pakan buatan yang biasanya digunakan adalah jagung, kedelai, tepung ikan, rumput laut, telur, vitamin, dan mineral.

Pemberian pakan ekstra juga diperlukan. Pemberian pakan ekstra ditujukan untuk mendongkrak tingkat pertumbuhan, stamina dan kebugaran burung, serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh terhadap serangan bibit penyakit. Jenis pakan ekstra yang bisa diberikan pada murai batu antara lain jangkrik, cacing tanah, ulat hongkong, ulat bambu/ulat daun pisang, orong-orong, ataupun belalang yang semuanya harus diberikan dalam keadaan hidup supaya kandungan nutrisinya tidak rusak dan juga masih terjaga cita rasanya bagi burung (Widyaningsih, 2008).

Forum Agri (2012) menyatakan bahwa dalam satu hari rata-rata burung akan membutuhkan air minum sebanyak 4--5 kali jumlah pakannya. Air sangat dibutuhkan dalam proses metabolisme tubuh, termasuk mengatur temperatur (panas) tubuh, mempertahankan keseimbangan volume darah, dan melumatkan makanan dalam proses pencernaan. Menurut Ma’aruf (2012), untuk menjaga kesehatan burung, air minum yang digunakan adalah air minum yang sudah matang, bukan air mentah. Selain itu, air minum sebaiknya diganti setiap hari dengan air yang masih segar supaya lebih steril dan terhindar dari parasit yang bisa mengganggu kesehatan burung. Oleh karena itu, ketersediaan air minum segar menjadi salah satu hal yang tidak boleh dilupakan dalam pemberian pakan pada burung murai batu.

Murai batu membutuhkan vitamin A, B, C, D, dan E. Vitamin A berfungsi untuk menjaga kesehatan kulit dan pertumbuhan bulu yang sangat dibutuhkan oleh murai batu muda. Vitamin B diperlukan dalam proses kerja sistem saraf pusat dan kebutuhan energi. Vitamin C berfungsi untuk menjaga daya tahan tubuh.

Vitamin D berfungsi untuk membantu proses reproduksi. Vitamin E berfungsi sebagai antioksida dan menjaga kesehatan kulit (Turut, 2011). Menurut Forum Agri (2012), secara umum fungsi pemberian vitamin pada murai batu adalah untuk merangsang pertumbuhan, meningkatkan daya tahan tubuh, mengurangi stres, dan membantu reproduksi burung. Vitamin diberikan dengan dicampur pada air minum dengan pemberian 2--3 kali dalam satu minggu.

2. Lokasi Kandang
Kandang adalah struktur atau bangunan dimana hewan ternak dipelihara. Fungsi kandang adalah memudahkan pengelolaan ternak dalam proses produksi seperti pemberian pakan, minum, pengelolaaan kotoran/ limbah dan perkawinan, menjaga keamanan ternak dari pencurian, meningkatkan efisiensi penggunaan tenaga kerja, melindungi ternak dari perubahan cuaca atau iklim yang ekstrim (panas, hujan dan angin), dan mencegah dan melindungi ternak dari penyakit (Saputro, 2015).

Menurut Mu’arif (2012), penempatan kandang penangkaran sangat berkaitan erat dengan keberhasilan penangkaran. Kandang yang salah posisi menyebabkan murai batu tidak mau bertelur. Untuk memilih lokasi yang tepat, peternak harus memperhatikan karakteristik burung murai batu di alam liar. Murai batu menyukai kondisi yang seolah-olah mirip dengan habitat di alam aslinya.

Kandang murai batu dapat diletakkan di dalam ataupun di luar rumah. Penangkaran di dalam rumah (indoor) adalah semua kandang penangkaran diletakkan dalam satu ruangan. Pemilihan ini dilakukan karena lokasi atau tempat yang ada sangat terbatas, sedangkan jumlah pasangan murai yang akan ditangkarkan banyak (Mu’arif, 2012). Peternak menempatkan setiap pasangan murai dalam kandang relatif kecil. Cara seperti ini hanya bisa dilakukan pada indukan hasil penangkaran yang sudah cukup jinak dan pelakunya harus cukup berpengalaman (Sridadi, 2001).

Umumnya lokasi penangkaran murai batu dibuat di luar rumah (outdoor), seperti di pekarangan atau di samping rumah (Sridadi, 2001). Untuk di daerah perkotaan dengan luas yang sangat terbatas, biasanya bagian lantai dua rumah, baik di bagian depan atau belakangnya bisa dimanfaatkan untuk penempatan kandang penangkaran. Faktor yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah tempat yang dikehendaki cukup tenang dan jarang ada gangguan berarti (Mu’arif, 2012).

3. Ukuran kandang
Menurut Jalil dan Turut (2012), ukuran kandang penangkaran murai batu perlu diperhatikan karena dengan ukuran kandang yang cukup dapat menjaga kesehatan dan produktivitas burung. Ukuran kandang yang terlalu besar dapat menyebabkan murai batu terlalu banyak bergerak sehingga energinya banyak digunakan untuk bergerak daripada untuk berproduksi. Ukuran kandang yang terlalu kecil dapat menyebabkan murai batu stres karena terbatasnya ruang gerak murai batu sehingga mengganggu reproduksi murai batu.

Untuk penangkaran murai sudah ada yang menggunakan kandang berukuran kecil, 60 x 60 x 60 cm ( p x l x t ) dan sangkar soliter gantung untuk ukuran sepasang burung, namun tidak dapat menampung anakan murai batu. Dengan ukuran kandang tersebut dan berbentuk sangkar gantung, murai bisa menghasilkan anakan. Namun, murai yang ditangkarkan merupakan hasil breeding yang sudah cukup jinak. Oleh karena itu, ukuran kandang yang besar menjadi pilihan dan sangat ideal untuk penangkaran murai. Ukuran kandangnya 1 x 2 x 2 m ( p x l x t) sudah cukup memadai. Jika memungkinkan, ukuran kandang bisa dibuat lebih lebar lagi, yaitu 2 x 2 x 3 m. Kandang dengan ukuran ini dapat digunakan untuk sepasang murai batu dan beberapa anakan murai batu. Semakin besar ukuran kandang, semakin baik untuk penangkaran, terutama untuk murai batu unggulan kontes dan pernah juara. (Sridadi, 2001).

4. Peralatan Pendukung Kandang
Perlengkapan kandang memiliki peran dalam mendukung pemeliharaan burung di penangkaran untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan dan kenyamanan beraktivitas di kandang. Kandang penangkaran murai harus dilengkapi sarang pendukung lainnya, seperti sarang, bahan sarang, dan tenggeran. Kelengkapan lain yang perlu dipersiapkan, yaitu tempat pakan dan tempat minum (Jalil dan Turut, 2012).

Gunawan (2012) menyatakan bahwa untuk sarang atau tempat bersarang murai yang ditangkarkan, peternak dapat memanfaatkan barang bekas, seperti baskom plastik kecil, bekas tempat buah, panel bekas, kuali bekas, dan semua bahan dari anyaman bambu, seperti besek besar, irek kecil yang rapat untuk membersihkan sayuran, kukusan nasi, dan tempat nasi. Menurut Sridadi (2001), bahan dari anyaman bambu memberikan rasa sejuk atau tidak panas. Jadi, bisa membuat murai nyaman bertelur dan mengeram.

Tenggeran merupakan salah satu perlengkapan kandang yang ditempatkan dalam kandang dengan posisi yang tepat sehingga tidak mengganggu keleluasaan burung beraktivitas. Tangkringan atau tenggeran yang akan digunakan untuk kawin hendaknya tidak sembarangan. Jenis, ukuran, dan penempatannya harus diperhitungkan. Untuk murai batu sebaiknya digunakan tenggeran dari bahan
kayu yang berdiameter 0,15--0,2 cm (Jalil dan Turut, 2012).

Selain tenggeran, perlengkapan kandang yang menunjang pemeliharaan burung di penangkaran adalah tempat pakan, air minum dan baiknya ditambahkan tempat mandi. Tempat pakan dan tempat minum merupakan pelengkap yang harus ada di kandang penangkaran. Wadah tersebut harus dijaga kebersihannya dan tidak tercemar bahan kimia sebelum digunakan. Posisi tempat pakan dan tempat minuman sedapat mungkin mudah dilihat burung dan saling berdekatan (Jalil dan Turut, 2012).

5. Tata Laksana Kebersihan Kandang
Menjaga kebersihan sangkar atau kandang tempat tinggal burung yang dipelihara merupakan salah satu bentuk perawatan terpenting sekaligus faktor penentu keberhasilan dalam pemeliharaan murai batu. Dengan tingkat kebersihan yang terjaga, munculnya bibit penyakit tertentu bisa diminimalisir dan burung yang dipelihara akan merasa nyaman sehingga terhindar dari serangan stres yang menjadi pemicu munculnya berbagai penyakit pada burung (Forum Agri, 2012) .

Menurut Forum Agri (2012), bentuk perawatan dalam menjaga tingkat kebersihan kandang antara lain :
1. membersihkan tempat pakan dan tempat minum setiap hari;
2. setiap awal hari, air minum dan pakan selalu diganti dengan yang baru. Sisa air minum atau pakan kemarin yang belum habis harus dibuang;
3. setiap harinya, tempat penampungan kotoran burung yang ada di bawah sangkar diambil dan kotorannya dibuang ke tempat khusus. Setelah beberapa hari, tempat penampungan kotoran burung tersebut dicuci hingga bersih dan dikeringkan, sebelum akhirnya dipakai kembali;
4. setidaknya seminggu sekali sangkar dibersihkan dari berbagai kotoran yang ada;
5. setelah kotoran dibuang, sangkar bisa dicuci lalu disterilkan dengan obat antikuman atau disinfektan, dan dikeringkan di bawah sinar matahari;
6. tempat tenggeran burung juga dibersihkan sekitar empat hari sekali. Sebelum digunakan kembali harus disucihamakan dan dijemur di bawah sinar matahari hingga kering supaya tidak menimbulkan jamur dan menyebabkan munculnya sakit encok pada burung.

Cara Memandikan Burung Menurut Para Ahli
Murai batu juga harus sering dimandikan dengan tujuan untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh burung, karena bisa membersihkan kotoran maupun kutu yang hinggap di tubuhnya. Selain itu, pada burung yang sedang mengalami pergantian bulu (molting), aktivitas mandi akan mempercepat proses pergantian bulu-bulunya dan lebih merangsang tumbuhnya bulu-bulu baru (Forum Agri, 2012).

Menurut Turut (2011), cara memandikan burung bisa dilakukan dengan cara memasukkan tempat mandi ke dalam sangkarnya, atau dengan cara memindahkan burung ke sangkar lain yang berukuran lebih besar dan di dalamnya sudah terdapat semacam bak mandi berisi air yang dirancang khusus untuk memandikan burung. Cara yang kedua tersebut memang lebih disarankan lantaran alas sangkar pemeliharaan harian menjadi tidak mudah rusak dan makanan yang ada di dalam sangkar juga tidak mudah hancur akibat sering basah terkena tumpahan air sewaktu burung mandi. Forum Agri (2012) menambahkan bahwa, agar murai batu lebih leluasa sewaktu mandi, idealnya tempat mandi yang diberikan berukuran panjang 17-- 20 cm, lebar 10--12 cm, dengan kedalaman 6--8 cm, sehingga air yang dimasukkan bisa mencapai ketinggian hingga sekitar 4 cm.

Selain itu, memandikan murai batu juga bisa dilakukan dengan cara menyemprotkan air dengan menggunakan sprayer yang lubang pengeluaran airnya bisa diatur (Jalil dan Turut, 2012). Cara penyemprotannya memang tidak boleh langsung mengenai tubuh burung karena bisa merusak bulu, dan juga bisa mengakibatkan burung tidak nyaman lantaran sebagian air bisa mengenai mata burung yang sensitif. Cara yang disarankan adalah dengan menyemprotkan air dalam jarak tertentu pada bagian luar atas sangkar sehingga air bisa jatuh ke bawah sedikit demi sedikit dan membasahi burung secara perlahan (Forum Agri, 2012).

Waktu untuk memandikan burung sebenarnya bisa dilakukan pada waktu pagi maupun sore hari, asalkan kondisi cuaca memungkinkan (cerah) dan cukup mendapatkan sinar matahari. Namun, waktu paling ideal adalah pada pagi hari antara pukul 07.00 hingga 10.00. Sinar matahari pada waktu itu masih terasa hangat atau tidak terlalu panas sehingga tidak berbahaya bagi kondisi burung. Ditambah lagi, dengan kondisi tersebut, proses mandi masih dimungkinkan untuk diikuti dengan proses menjemur burung antara 30 menit hingga lebih dari satu jam, sedangkan apabila memandikan burung pada sore hari, kesempatan burung untuk mengeringkan bulu-bulunya hanya sebentar saja sehingga bisa menyebabkan bulu-bulu burung tidak kering sempurna (Jalil dan Turut, 2012). Bulu-bulu yang tidak kering sempurna atau kering dalam waktu yang terlalu lama bisa menyebabkan burung mudah terserang rematik (Turut, 2011).

Cara Penjemuran Murai Batu yang Benar


Cara Penjemuran Murai Batu yang Benar

Setelah burung dimandikan, lazimnya akan diikuti dengan proses penjemuran di bawah sinar matahari. Selain bertujuan mengeringkan bulu-bulu burung yang basah, penjemuran di bawah sinar matahari ini memang ditujukan untuk menjaga kesehatan dan kebugaran burung. Termasuk di antaranya adalah untuk membantu membakar lemak dan kalori, menjaga kesegaran tubuh dan memperkuat daya tahan tubuh melalui sistem imun yang diproduksi dalam tubuh, membantu tubuh
dalam memproduksi beberapa vitamin seperti vitamin D dan vitamin E, mencegah penyakit rakitis (tulang rapuh) karena sinar matahari pagi bisa merangsang pembentukan vitamin D di bawah jaringan kulit, dan juga mengusir jamur, kutu, dan parasit lain yang bisa menempel dan menyebabkan gatal-gatal pada tubuh burung (Jalil dan Turut, 2012).

Sebaiknya, proses penjemuran dilakukan antara pukul 07.00--10.00 pagi ketika sinar matahari belum begitu terik dan menyengat. Bisa juga dilakukan pada sore hari pukul 15.00-- 16.00 ketika sinar matahari masih terasa hangat. Untuk durasi penjemuran harian biasanya antara 20 menit hingga satu jam. Namun, bisa juga lebih lama dari itu, bergantung pada kondisi cuaca dan intensitas sinar matahari yang ada, kondisi burung, dan tujuan yang ingin dicapai (Jalil dan Turut, 2012). Sebagai catatan, proses penjemuran burung tidak boleh berpatokan pada lamanya waktu, tetapi lebih merujuk pada kondisi masing-masing burung saat itu .

Selain itu, proses penjemuran tidak boleh dilakukan terlalu lama dan dalam suhu yang terlalu panas karena akan membahayakan burung tersebut, dan bisa mengakibatkan kematian. Untuk menyikapi hal itu pula, proses penjemuran sebaiknya tidak dilakukan pada saat sinar matahari sedang terlalu terik, yakni sekitar pukul 12.00 hingga pukul 14.00 (Forum Agri, 2012). Turut (2011) menyatakan bahwa, apabila dengan terpaksa harus melakukan penjemuran pada waktu tersebut, sebaiknya durasi penjemuran maksimal 15 menit saja, atau tetap bisa dilakukan apabila intensitas sinar matahari memang sedang di bawah rata- rata (tidak terlalu panas), seperti yang terjadi pada saat cuaca sedang mendung.

Beberapa Perilaku Burung Murai Batu yang Perlu Diamati

Perilaku satwa adalah semua gerakan atau perubahan gerak, termasuk perubahan dari bergerak ke tidak bergerak (Tanudimadja, 1978). Perilaku akibat rangsangan terdapat pada hampir semua individu dalam satu spesies, tetapi kadang-kadang ada perilaku yang tidak didasari oleh pengalaman terlebih dahulu, yaitu perilaku bawaan (Takandjandji dkk., 2010).

Perilaku burung murai yang sudah berproduksi di penangkaran diketahui melalui pengamatan pola perilakunya. Pola perilaku merupakan perilaku yang terorganisir dengan fungsi tertentu, dapat berupa aksi tunggal atau aksi berurutan yang terintegrasi dan biasanya muncul sebagai respon terhadap stimulus dari lingkungannya (Sulistyoningsih, 2013).

Perilaku burung yang diamati adalah ingestif, diam, dan kawin. Perilaku ingestif termasuk aktivitas makan, minum, dan membersihkan paruh, perilaku diam meliputi aktivitas bertengger, berjemur, dan istirahat, sedangkan perilaku kawin meliputi aktivitas mendekati betina, menyelisik, dan bercumbu (Takandjandji dkk., 2010).

Burung Murai Batu Berperilaku Ingestif
Perilaku ingestif, meliputi aktivitas:
1. makan, adalah aktivitas ingestif yang dilakukan dengan cara mengambil dan menghancurkan makanan menggunakan paruh dan lidah;
2. minum, adalah aktivitas yang dilakukan dengan cara mencelupkan paruh ke dalam air lalu menengadahkan paruh;
3. membersihkan paruh, adalah aktivitas yang dilakukan dengan cara membersihkan diri atau pasangannya menggunakan paruh dan kaki (Takandjandji dkk., 2010).

Pada burung lovebird rata-rata presentase frekuensi makan lovebird betina (52,99%) selama 92,16 menit lebih besar daripada jantan (46,73%) selama 91,07) menit. Kemudian untuk rata-rata persentase frekuensi minum lovebird jantan (8,55%) selama 1,6 menit lebih besar dari pada betina (6,42%) selama 1,27 menit. Adapun rata-rata persentase frekuensi membersihkan paruh lovebird jantan (44,72%) selama 7,33 menit lebih besar daripada betina (40,59%) selama 6,57 menit (Dewi, 2015).

Burung Murai Batu Perilaku Diam
Menurut Takandjandji dkk (2010), perilaku diam meliputi aktivitas:
1. bertengger, adalah aktivitas pasif yang dilakukan dengan posisi tubuh bertengger pada kayu dengan kedua mata terbuka;
2. istirahat, adalah aktivitas yang dilakukan dengan posisi diam sedangkan kedua mata memperhatikan setiap gerakan benda di luar kandang;
3. berjemur, adalah aktivitas yang dilakukan pada pagi hari dengan cara merentangkan kaki dan sayap menghadap matahari pagi.

Rata-rata persentase bertengger lovebird jantan (88,51%) selama 70,01 menit lebih tinggi daripada betina (87,01%) selama 70,57 menit. Rata-rata persentase frekuensi istirahat jantan (11,49%) selama 28,37 menit lebih rendah daripada betina (12,99%) selama 31,04 menit (Dewi, 2015).

Burung Murai Batu Berperilaku Ingin Kawin
Perilaku kawin, dengan aktivitas:
1. mendekati betina, adalah aktivitas yang dilakukan hanya oleh burung jantan dengan cara berdekatan pada saat bertengger untuk mencari perhatian seekor betina;
2. menyelisik, adalah aktivitas yang dilakukan terhadap individu lain atau sejenis, menggunakan paruh dengan cara mengelus, pura-pura menggigit, dan mengendus;
3. bercumbu, adalah aktivitas yang dilakukan terhadap pasangan dengan cara mencium dan memasukkan paruh pada paruh lawan jenis (Takandjandji dkk.,
2010).

Menurut Dewi (2015), rata-rata persentase frekuensi kawin lovebird adalah 2,4% selama 2,76 menit. Rata-rata persentase frekuensi bercumbu lovebird betina (24,39%) selama 13,02 ment lebih tinggi daripada jantan (12,69%) selama 6,55 menit.

Menurut Agung Dwi Saputroa, Khaira Novab, Tintin Kurtinib dalam penelitian "PERILAKU BURUNG MURAI BATU (Copsychus malabaricus) SIAP PRODUKSI", menyimpulkan:

1. Rata-rata persentase perilaku ingestif murai batu pada betina meliputi perilaku makan (35,73%), minum (11,17%), dan membersihkan paruh (35,73%) lebih tinggi dibandingkan dengan jantan meliputi perilaku makan (25,60%), minum (6,63%), dan membersihkan paruh (25,60%).

2. Rata-rata persentase perilaku diam murai batu pada jantan meliputi perilaku bertengger (7,78%), istirahat (10,47%), dan berjemur (9,13%) lebih tinggi dibandingkan dengan betina meliputi perilaku bertengger (6,47%), istirahat (7,74%), dan berjemur (7,87%).

3. Pada perilaku kawin murai batu jantan menunjukkan rata-rata persentase perilaku mendekati betina 4,70% selama 0,38 menit

4. Murai batu siap produksi lebih banyak makan untuk memenuhi nutrisinya dalam mempersiapkan organ reproduksinya. Murai batu jantan lebih banyak diam mengawasi lingkungan sekitar kandang dan melindungi betina bila ada ancaman terhadap betina, sedangkan betina membuat sarang untuk berterlur, dan jantan mendekati betina dengan mengibas - ngibaskan ekornya dan mengeluarkan suara kicauan yang merdu, kemudian betina melebarkan sayapnya dan mengeluarkan suara kicauan yang lebih pelan dibandingkan dengan jantan.

Merawat anakan Burung Murai


Menjodohkan Burung Murai Batu

Dilansir dari sasang.coid, melihat resiko penjodohan di atas yang terlalu besar, maka kita harus sangat ekstra hati-hati selama menjodohkan burung petarung tersebut. Untuk menjohkan murai batu bisa di lakukan dengan beberapa cara. Salah satu caranya adalah dengan cara mendekatkan terlebih dahulu calon indukan yang ingin di jodohkan. Kedua calon indukan jantan dan betina masing-masing di tempatkan di sangkar tersendiri dan keduanya di dekatkan dengan jarak sekitar dua meter selama beberapa hari. Biasanya, bila memang indukan siap maka pejantan akan rajin berkicau untuk menarik perhatian sang betina. Begitupun dengan yang indukan betina. Bila siap, indukan betina akan menyahutnya dengan kicauan meskipun tidak sesering kicauan calon indukan murai batu jantan. Dalam tahap ini saya menamakannya dengan penjodohan awal untuk mempermudah pembahasannya saja.

Setelah beberapa hari, maka keduanya biasanya sudah berjodoh di tandai dengan seringnya mereka berdekatan dan tidak saling serang. Bila tanda-tanda tersebut sudah terjadi, maka kedua calon indukan bisa lebih dekatkan sebelum di satukan ke dalam kandang penangkaran. Memang cara ini lebih lama. Namun, cara ini lebih efektif dan bisa mengurangi resiko kegagalan saat penjodohan.

Sedangkan apabila gagal perjodohan murai batu ada beberapa resiko untuk menjodohkan murai batu memang tidak semudah menjodohkan burung kenari atau burung lovebird. Penanganan pada penjodohan burung ini memang relatif lebih susah. Namun bila kita mau berusaha dan bersungguh-sungguh, semua itu tetap bisa di usahakan. Buktinya, banyak peternak yang berhasil menjohkan murai batu. Bila terus belajar, maka kita akan lebih banyak pengalaman yang nantinya kita akan lebih mahir dalam menjodohkan burung murai batu. Yang perlu di perhatikan, selama proses penjodohan ada resiko-resiko yang perlu kita ketahui bila ingin menjodohkan burung murai batu. Karena sifat fighternya yang sangat kuat, burung ini cenderung teritorial dan sangat melindungi daerah kekuasaannya. Maka dari itu, saat di satukan burung ini berpeluang saling serang yang menyebabkan salah satunya terluka hingga bisa menyebabkan kematian.

Dan bagaimana bila kita mengalami kejadian seperti itu? Salah satu cara yang tepat adalah segera menyelamatkan salah satu indukan yang di serang sebelum terlambat. Karena bila terlambat, maka burung bisa mati karena murai batu adalah burung fighter yang sangat pintar dalam menyerang burung lain. Dalam hitungan menit, burung bisa mati di patuk oleh burung murai batu yang lain karena paruh burung ini sangat tajam dan dia akan mematuk kepala burung lain dengan sangat keras sehingga kepala murai batu bisa terluka hingga burung bisa mati. Burung yang di serang sebaiknya di pindahkan ke sangkar burung lain dan di beri obat penyembuh luka. [1]


Cara yang benar Merawat anakan Burung Murai batu


Merawat anakan Burung Murai Batu

Untuk masalah pakan disini diwajibkan untuk memberikan pakan yang baik untuk anakan burung murai batu. Adapun pakan yang harus diberikan adalah yang banyak mengandung protein tinggi tentunya, karena pada masa anakan ini burung murai yang masih usia dini ini berada dalam masa pertumbuhan. Dan untuk pakan yang harus diberikan yaitu jenis serangga, Seperti kroto, jangkrik dan ulat. Untuk cara dan komposisinya adalah sebagai berikut, Untuk setelan kroto berikan kroto kroto pilihan jangan berikan kroto yang sudah layu. Buanglah semut yang menempel di telur semut tersebut, dan untuk jumlahnya berikan 1/2 - 1 sendok teh makan. Berikan pagi dan sore hari dan dalam 1 minggu minimal 2 X.

Untuk setelan jangkrik usahakan untuk memberikan kepada anakan murai batu  jangkrik yang masih anakan atau ukurannya kecil saja dulu. Dan berikan jangkrik dalam keadaan masih hidup. Hal ini juga untuk melatih mental anakan burung murai. Untuk jumlahnya berikan sebamyak 3 - 5 ekor setiap pagi dan sore. Usahakan tidak memberikan jangkrik dengan tangan langsung,  hal ini untuk menghindari burung terlalu jinak nantinya.

Untuk setelan ulat (HONGKONG) diberikan kepada burung murai secara umum baik anakan maupun dewasa sangat disarankan untuk jumlahnya tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sering, tetapi tetap harus diberikan, cukup 3 - 5 biji saja dalam 1 hari, dan berikan 2 X dalam 1 minggu, tetapi jangan diberikan bersamaan dengan waktu pemberian kroto. Selang selinglah dengan pemberian kroto yang juga 2 X dalam seminggu, sehingga pemberian pakan untuk jenis EF nya bisa bervariasi.

Untuk pemberian voer pilihlah voer yang kandungan gizinya lengkap, caranya bacalah label di kemasanya. Selain juga sangat bagus untuk membantu setelan pakan buat burung murai, keuntungan dengan memberikan voer adalah untuk mengkondisikan ketersediaan pakan bagi burung Murai anda, jadi terhindar dari kasus kematian burung murai akibat dari kekurangan pakan.

Dengan menggunakan cara cara diatas tentunya dengan secara tidak sengaja anda sudah membuat setelan pakan untuk burung murai anda ketika sudah dewasa nantinya. Secara keseluruhan dalam pemberian pakan ini untuk jumlahnya bisa disesuaikan dengan kebutuhan dari sang burung sesuai dengan bertambah usianya. Tetapi buatlah perubahan tersebut dari sekarang ketika masih anakan dan jangan merubah pola makan burung murai anda ketika sudah dewasa.

Pemasteran Anakan Burung Murai

Pemberian masteran saat masih anakan sangat diwajibkan, selain. karena memori otaknya yang masih baru dan segar sehingga lebih mudah menerima suara masteran juga karena ketika masih anakan tentunya waktu yang dimiliki untuk memaster anakan burung murai masih sangat panjang. Oleh sebab itu pula dalam memberikan suara masteran agar lebih maksimal jangan menargetkan terlalu banyak suara burung untuk dimasterkan ke anakan burung bila memakai media mp3, cukup 2 - 3 suara burung saja tetapi lebih fokus.

Burung murai sangat bagus ketika membawakan suara suara dengan nada tinggi, seperti cililin, kenari, lovebird, Jenggot, dll, dan untuk masteran bisa menggunakan burung asli atau suara burung dari media musik seperti mp3. Suara masteran dari burung asli seperti kenari, kolibri, saya sarankan untuk tersedia dirumah, karena untuk harganya masih terjangaku, atau kalau bisa belilah burung lovebird dengan isian burung cililin, sedikit tips / cara masteran suara burung cililin yang dibawakan oleh lovebird biasanya lebih mudah diterima oleh burung yang dimasteri dari pada memakai burung Cililin yang asli. Dengan suara burung asli tersebut, anakan burung murai sudah aman dengan masteran dari suara alami. Dan untuk suara burung burung yang lain bisa memakai media mp3, tetapi cukup dengan 2 - 3 suara saja seperti penjelasan saya diatas sebelumya.

Dan untuk waktunya pemasteran khususnya bila memakai media mp3 waktu paling ideal adalah sore menjelang malam hari sampai dengan pagi hari. Karena untuk pagi sampai dengan sore sudah termaster oleh burung asli. Meskipun begitu tidak ada salahnya bila seharian penuh diberikan suara masteran dari mp3.

Memandikan dan Membersihkan Kandang Khusus Anaakan Burung Murai

Tahapan memandikan dan membersihkan kandang ini berlaku untuk burung murai yang masih anakan maupun yang sudah dewasa. Mengajari anakan burung murai dengan mandi karamba sangat disarankan, namun begitu ketika masih anakan tidak perlu memaksakan diri, tetapi targetnya berikan perkenalan dulu dengan mandi karamba, meskipun begitu dengan menggunakan sprayer juga tidak jadi masalah,  namun kalau bisa tetap utamakan dengan mandi karamba.

Selain mandi ada juga hal penting yaitu tetap menjaga kebersihan kandang murai, usahakan untuk membersihkan kandang murai dari kotorannya minimal 3 kali dalam 1 minggu, selain bagus untuk kesehatan burung murai,  tentunya bagus pula untuk kesehatan rumah anda.

Setelah itu tentunya burung murai sangat perlu untuk penjemuran, dan disini yang perlu diperhatikan adalah waktu dan temponya, untuk usia anakan jangan terlalu menjemur anakan burung murai terlalu lama, sebaiknya berikan penjemuran selama kurang lebihnya 1/2 - 1 jam saja dan lakukan sepagi mungkin. Setelah itu kembali diangin anginkan saja diteras rumah, atau dibawah pohon. Bisa juga diperkenalkan dengan burung masteran yang ada dirumah anda seperti kenari, lovebird dll. Setelah dirasa cukup burung kembali bisa dikerodong dan dimasteri memakai media mp3 bila perlu.

Melatih Dan Terapi Anakan Burung Murai

Memberikan latihan atau terapi mental sejak dini untuk anakan burung murai sangat penting dan diperlukan, karena sifat asli dari burung murai batu adalah burung yang sangat figter / petarung untuk mengamankan daerah kekuasaanya. Berikut adalah cara cara terapi untuk melatih mental anakan burung murai. Melatih sejak dini anakan burung murai dengan memasukan dikandang umbaran selain untuk menjaga kesehatan burung bisa juga untuk melatih mental burung murai. Karena burung murai akan terbiasa dengan daerah yang lebih luas dari sekedar luas kandang sangkar gantung. Cara ini berlaku untuk murai batu dewasa.

Melatih dengan Memakan Makanan Yang Hidup/Gerak
Cara ini untuk terapi di alam liar yang serba tidak mudah dengan alamnya yang keras dan liar, selain itu juga untuk mengajari anakan burung murai untuk mandiri. Cara ini juga berlaku untuk perawatan burung murai dewasa.

Melatih Di Kerodong

Cara ini dilakukan untuk melatih burung agar tidak manja dan cengeng karena pada dasarnya anakan burung murai yang dibeli dari ternakan adalah burung yang jinak, yang sudah terbiasa dengan lingkungan manusia disekitarnya, dan untuk perawatannya tentunya berbanding terbalik dengan merawat murai batu anakan muda hutan. dan untuk perawatannya adalah dengan senantiasa memberikan waktu dalam sehari untuk dikerodong seperti yang sudah saya sampaikan diatas sebelumnya. dan setelah dikerodong burung bisa digantang dibawah pohon atau di teras. Cara ini juga berlaku untuk perawatan burung murai dewasa.

Melatih Dengan Burung Lebih Muda dan Kecil

Dengan mendekatkan anakan burung murai dengan burung burung jenis lainya yang lebih kecil sangat bagus untuk melatih mental dari anakan burung murai, dan untuk tahapannya dekatkan dulu dengan burung burung yang non figter seperti kenari, gereja, kolibri, atau burung burung dengan sifat atau karakter burung yang terbiasa hidup koloni, setelah umurnya cukup dewasa bisa diperkenalkan dengan burung burung lain yang sifatnya figter / petarung seperti burung ciblek, prenjak jantan dan betina yang memiliki sifat atau karakter teritorial. dan usahakan jangan pernah untuk mendekatkan dengan burung sejenis atau murai batu yang lebih dewasa.

Bila terpaksa akan melakukan latihan dengan burung sejenis usahakan agar menunggu usianya sudah cukup dewasa dulu dan latihlah atau pilihlah lawan berlatih dengan burung yang lebih muda. Kecuali bila usia dan mental burung murai anda sudah dirasa cukup bisa dilatih di kelas latihan bersama di arena lomba dan sejenisnya.

Melatih Dengan Berpindah Tempat Gantangan

Kebalikan dari melatih anakan burung yang didapat dari muda hutan yang masih rawan stres, dengan memindah mindah gantangan saat dijemur di rumah atau di angin anginkan sangat bagus untuk melatih mental anakan burung murai. terlebih lagi bila anakan sudah menginjak usia remaja, dengan mengajak main kerumah rumah tetangga yang memiliki burung burung jenis lain juga bisa dilakukan, hal ini untuk mengajari anakan burung murai dengan terbiasa di daerah kekuasaan atau teritorial yang baru.

Dengan tahapan perawatan anakan burung murai diatas, lakukan dengan sabar dan konsisten agar kelak nanti anakan burung murai tersebut bisa menjadi burung yang membanggakan. Perhatikan tingkah laku dan perkembangan anakan burung murai anda, karena setiap burung memiliki karakter berbeda beda,  dan itu hanya anda  yang memahaminya karena anda sendirilah yang merawatnya. [2]

0 Response to "Modal Jutaan Raup Ratusan Juta, Alipudin Ternak Murai Batu"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel