Fermentasi Enceng Gondok Untuk Pakan Hewan Ternak Sapi, Kambing Dan Rumansia Lainnya

Eceng gondok merupakan gulma liar yang banyak terdapat di badan-badan perairan yang keberadaannya  dapat  menimbulkan  efek  nega- tif yang serius pada ekosistem perairan. Banyak usaha yang telah dilakukan untuk memanfaat kan gulma perairan ini, antara lain adalah usaha menggunakan eceng gondok sebagai pakan ter nak unggas, seperti itik (Wahyono et al. 2005) serta sebagai pakan ikan nila merah (Muchtaromah et al. 2009).

Eceng gondok memang sangat potensial untuk pakan hewan, karena kandungan proteinnya yang tinggi (11,2%) namun satu kelemahan eceng gondok ialah merupakan bahan pakan yang ketercernaannya rendah karena banyak mengandung serat kasar (16,79%)

Untuk mengubah eceng gondok menjadi bahan pakan yang bernilai gizi baik dan mudah dicerna, maka salah satu cara yang dapat ditempuh adalah menggunakan teknologi fermentasi. Penelitian yang telah dilakukan oleh Fitrihidajati & Ratnasari (2005) bahwa pemanfaatan mikrobia yang terdapat dalam Effective Microorganism (EM4) dapat mempercepat dekomposisi limbah Blotong yang berupa serat menjadi pupuk organik. Demikian pula hasil penelitian yang lain oleh Isnawati (2008), telah berhasil mengembangkan probiotik yang dapat digunakan untuk mendegragasi materi-materi yang berasal dari tumbuhan. Isnawati (2010) dan Pamungkas & Khasani 2010 juga telah berhasil mencoba memfermentasi pakan ternak dari limbah pertanian dan diimplementasikan pada ruminansia.

Hasil fermentasi eceng gondok berstruktur remah, berwarna coklat kehitaman, dengan aroma cenderung berbau khas tempe. Berdasarkan hasil analisis proksimat di atas memperlihatkan bahwa pada dasarnya semua perlakuan menghasilkan pakan yang layak untuk diberikan pada hewan uji coba. Tetapi apabila dibandingkan perlakuan yang menghasilkan pakan terbaik berdasarkan kriteria kandungan protein kasar tertinggi, serat kasar terendah dan energi tertinggi ialah perlakuan pada V1L5.

Pakan eceng gondok yang difermentasi dengan penambahan ragi tempe pada berbagai konsentrasi  mempunyai  nilai  gizi  yang  relatif  lebih baik jika dibandingkan dengan pakan eceng gondok yang pada proses fermentasinya  tidak menggunakan ragi tempe (kontrol/V1L5). Hal ini disebabkan pada ragi tempe terkandung sejumlah mikroorganisme dari kelompok selulolitik, amilolitik, proteolitik dan lipolitik.

Kelompok selulolitik akan mendegradasi selulosa menjadi komponen penyusunnya yaitu glukosa (Isnawati 2010), kelompok amilolitik akan menguraikan komponen amilum yang terdapat pada bahan baku pakan menjadi glukosa, komponen protein akan diuraikan menjadi peptide yang lebih sederhana oleh organisme proteolitik. Sedangkan komponen lemak akan disederhanakan oleh kelompok lipolitik (Antonius 2009;  Rai et al. 2010). Proses penguraian akan lebih cepat dengan penambahan ragi tempe dibandingkan fermentasi tanpa penambahan ragi tempe karena mikroorganisme yang terkandung dalam ragi tempe menjadi agen pendegradasi komponen-komponen tersebut   (Tirajoh 2003).

Hal serupa juga dilaporkan oleh Zaman (2013) bahwa ragi tempe dapat digunakan untuk mempercepat proses  fermentasi  dan  meningkatkan  kandungan gizi kiambang (Salvinia molesta). Proses degradasi tetap terjadi pada bahan baku yang tidak ditambah ragi tempe, karena pada bahan tersebut sudah terdapat mikroflora yang menjadi penghuni alamiah. Adapun jenis-jenis mikroflora yang terdapat pada ragi tempe adalah Rhizopus oligosporus, Rhizopus oryzae, Rhizopus stolonifer, dan Rhizopus arrhizus (Fardiaz 1992). Ragi tempe yang ditambahkan itu sendiri juga menjadi tambahan gizi pada pakan yang dibuat, utamanya sumber protein.

Perbedaan yang menonjol antara pakan fermentasi eceng gondok yang ditambah ragi tempe dan tanpa penambahan ragi tempe adalah bahwa pada pakan eceng gondok tanpa penambahan ragi tempe kadar serat kasarnya tinggi. Hal ini menunjukkan  bahwa jenis karbohidrat yang tidak tercerna oleh mikroorganisme ini banyak yang tetap utuh belum terdegradasi. Dada (2002) melaporkan bahwa pakan dengan tambahan eceng gondok yang dikeringkan tanpa melalui proses fermentasi memiliki kadar serat kasar yang  tinggi  yakni  antara  22-31%.  Serat  kasar yang tinggi ini menunjukkan kandungan selulosa yang  tinggi.  Pendegradasian  selulosa  memang relatif sulit karena biasanya mikroorganisme tidak dapat mencerna titik-titik percabangan pada molekul besar (Lehninger 1982).

Berdasarkan hasil penelitian, perlakuan V1L5 menghasilkan pakan fermentasi eceng gondok yang kandungan gizinya relatif lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya.

Hal ini dapat terjadi karena tercipta kondisi berimbang antara jumlah mikroorganisme yang mendegradasi dengan bahan yang didegradasi. Apabila jumlah mikroorganisme yang mendegradasi senyawa kimia kompleks sedikit, maka jumlah gizi atau bahan yang terdegradasi juga hanya sedikit.

Senyawa kimia kompleks masih terlalu banyak yang tersisa tidak terdegradasi, sehingga nilai gizinya juga turun. Pada penambahan ragi tempe yang terlalu banyak juga akan menghasilkan proses perubahan bahan kompleks menjadi bahan sederhana yang siap pakai juga cepat.

Jumlah mikroorganisme yang terdapat di dalamnya juga banyak, maka sebagian bahan hasil degradasi bahan itu akan digunakan kembali oleh mikro-organisme itu untuk mempertahankan hidupnya dan tumbuh. Hal ini disebabkan karena pertum- buhan mikroorganisme itu cepat dan menunjuk- kan kurva yang eksponensial (Pelczar & Chan1986).

Fermentsai Enceng Gondok Untuk Pakan Hewan Ternak Sapi, Kambing Dan Rumansia Lainnya

Berdasarkan hal inilah mengapa penambahan ragi tempe yang lebih banyak (V2, V3 dan V4) menghasilkan pakan yang nilai gizinya relatif lebih sedikit.

Apabila dicermati maka ternyata lama fermentasi mempengaruhi nilai gizi pakan yang dihasilkan. Sebagai gambaran dapat dikemukakan hasil perhitungan protein kasar pada lama fermentasi 5 hari lebih tinggi dibandingkan dengan lama fermentasi 10 hari, dan kandungan energi pakan hasil fermentasi eceng gondok dengan lama fermentasi 5 hari lebih tinggi dibandingkan dengan lama fermentasi 10 hari.

Hal ini disebabkan semakin lama waktu fermentasi yang kita berikan semakin panjang kesempatan bagi mikroorganisme untuk mendegradasi bahan yang terdapat di dalamnya. Sebagaimana kita ketahui bahwa proses pendegradasian itu merupakan proses enzimatik yang memerlukan waktu relatif lama (Isnawati 2010; Lestari et al. 2005). Dalam hal ini seharusnya dengan waktu fermentasi yang lebih lama kualitas hasilnya lebih baik tetapi kenyataanya tidak demikian.

Hal tersebut disebabkan karena jumlah ragi yang diberikan konsentrasinya sama antara fermentasi 5 hari dengan 10 hari, sehingga degradasi telah tercapai saat 5 hari. Demikian pula volume bahan baku sama sementara waktu 10 hari lebih lama. Zakaria et al. (2013) juga menemukan bahwa lama penyimpanan jerami pada yang ditambahkan inokulan kapang tidak memberikan efek yang nyata terhadap kadar proteinnya.

Hal yang penting dalam penelitian fermentasi eceng gondok untuk pakan ruminansia ini adalah bahwa pada dasarnya semua perlakuan menghasilkan pakan yang aman untuk dikonsumsi hewan uji, karena tidak mengadung zat-zat yang membahayakan. Sebelumnya, Marlina & Askar (2001) menyebutkan bahwa eceng gondok dapat digunakan sebagai pakan tambahan yang baik untuk ternak non ruminansia. Kandungan protein kasar yang terdapat pada pakan hasil fermentasi eceng gondok pada semua perlakuan telah memenuhi kebutuhan dasar domba untuk hidup. Sebagai pedoman kasar, jumlah protein kasar minimum yang diperlukan domba untuk hidup pokok sebesar 8% dari bahan kering. Domba yang sedang tumbuh atau laktasi memerlukan protein kasar sejumlah 11% dari bahan kering (Guntoro 2002).

Pakan yang nilai gizinya tinggi pasti dapat memicu pertambahan berat badan lebih cepat. McDonald et al (2002) menyatakan bahwa pertumbuhan ternak dikontrol oleh konsumsi nutrisi khususnya konsumsi energi. Berdasarkan pembahasan dapat diketahui bahwa eceng gondok dapat dimanfaatkan sebagai pakan tambahan. Proses fermentasi seperti yang telah digunakan pada pakan-pakan alternatif lainnya yakni menggunakan ragi tempe sebagai agen fermentasi (Amit  et al. 2010). Dengan demikian mempunyai potensi sebagai pakan tambahan untuk ruminansia lainnya.

0 Response to "Fermentasi Enceng Gondok Untuk Pakan Hewan Ternak Sapi, Kambing Dan Rumansia Lainnya"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel