4 Langkah Praktis Budidaya Ternak Cacing Sutra Cepat Berhasil

Panduan Praktis Budidaya Cacing Sutra Cepat Berhasil

Melihat penikmat penghobi ikan hias ditiap tahun selalu meningkat, beberapa ikan hias impor pun ikut meramaikan pasar hal ini mengakibatkan permintaan tanah air naik dari tahun dituhan. Selain itu cacing sutra banyak dimanfaatkan anak ikan (baby fish) seperti anakan ikan gurame,lele, patin, mujaer maupun segala jenis anakan ikan dan semua jenis ikan hias lainnya. Untuk harga perkilogram cacing sutra kini berkisar 32.000 - 40.000 rupiah.

Cacing Sutra (Tubifex sp) mengandung sangat dibutuhkan sebagai pakan alami dalam kegiatan unit perbenihan, terutama pada fase awal (larva) karena memiliki kandungan nutrisi (protein 57% dan lemak 13%) yang baik untuk pertumbuhan ikan dan ukurannya sesuai dengan bukaan mulut larva, disamping itu harganya lebih murah dibanding artemia. Sementara ketersediaannya masih mengandalkan pencarian tangkapan alam yaitu dari parit saluran air yang banyak mengandung bahan organik sisa limbah pasar atau limbah rumah tangga yang mengalir di saluran pembuangan.

Permasalahannya adalah cacing sutra di alam tidak selalu tersedia sepanjang tahun, terutama pada saat musim penghujan, dimana pada saat itu kegiatan pembenihan lele/patin/gurame/ikan lainnya banyak dilakukan. Bagi daerah diluar pulau Jawa seperi Sumatera, Kalimantan atau daerah lainnya yang banyak kegiatan pembenihan dan pembesaran, tetapi sulit memperoleh cacing sutera, maka budidaya ini perlu menjadi salah satu solusi yang perlu menjadi pertimbangan.

Budidaya Cacing Sutra Cepat Berhasil

Cacing ini mudah dikenali dari bentuk tubuhnya yang seperti benang sutra dan berwarna merah kecoklatan karena banyak mengandung haemoglobin. Tubuhnya sepanjang 1 – 2 cm, terdiri dari 30 – 60 segmen atau ruas. Berkembang biak pada media yang mempunyai kandungan oksigen terlarut berkisar antara 2 – 5 ppm, kandungan ammonia <1 ppm, suhu air berkisar antara 28 – 30 0C dan pH air antara
6 – 8.

Cacing sutra (Tubifex sp) ini bersifat hermaprodit, pada satu organism mempunyai 2 alat kelamin. Cacing ini dapat dibudidayakan dan digunakan langsung untuk larva ikan. Cacing ini dapat juga di simpan dalam bentuk beku (fresh) maupun kering (oven). Klasifikasi cacing sutera: Phylum: Annelida, Kelas : Oligochaeta, Ordo: Haplotaxida, Famili: Tubificidae, Genus: Tubifex , Spesies : Tubifex sp.

Usaha budidaya cacing ini bermula dari pengalaman SUROTO alias “OTOY” sebagai pembenih sekaligus sebagai pembesaran ikan lele di daerah Kabupaten Pringsewu Propinsi Lampung. Pada saat pemanenan ikan lele konsumsi timbul masalah membuang air limbah organik, air ini ditampung pada kolam yang kurang produktif, air bening pada bagian atas dibuang setelah 2 hari kemudian. Hal ini dilakukan berulang kali setiap panen lele, akhirnya secara tidak sengaja di kolam tersebut mulai muncul cacing yang terus berkembang. Cacing yang ada terus dipelihara dan dibudidayakan sampai saat ini.

Bahan dan alat sederhana yang dapat digunakan ialah:
1. Kolam untuk budidaya cacinig sutera
2. Air kolam ikan lele yang siap panen
3. Paralon untuk pengeluaran air
4. Biang/indukan cacing sutera
5. Ember plastik, seser, saringan plastik
6. Pompa air/alat untuk memindahkan air
7. Baskom penampung

Kegiatan Budidaya Cacing sutra dilakukan secara sederhana sehingga dapat dilakukan oleh Unit Pembenihan Rakyat (UPR). Persyaratan yang harus dipunyai adalah tersedianya limbah air pembuangan dari kolam hasil budidaya/pembesaran ikan Lele yang siap untuk dipanen. Tahapan yang dilakukan sebagai berikut :

1. Persiapan Kolam Untuk Budidaya Cacing Sutra
Kolam yang kurang produktif (tidak dipakai untuk budidaya lele) di areal usaha pembesaran ikan lele dapat diperuntukan untuk budidaya cacing sutera dengan luas 60 – 100 m2 (disesuaikan dengan areal yang ada). Kolam ini dikeringkan dan diolah. Air limbah kolam pembesaran lele diaduk-aduk untuk selanjutnya dimasukkan dengan pompa (dengan menyedot) ke kolam budidaya cacing sutera. Berdasarkan hasil uji sample air kolam ikan lele yang akan di panen (seminggu sebelum panen) oleh Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Laut Lampung pada bulan Juli 2010, air kolam tersebut mengandung mikro algae : Coelosphacrium sp (1,6 x 103), Lyngbya (2,35 x 103) dan Sprirulina sp (2,25 x 103).

2. Cara Pengendapan Air Untuk Budidaya Cacing Sutra
Air yang masuk di endapkan selama 3-5 hari, selanjutnya bagian atas endapkan air dibuang/diturunkan mencapai 5 – 10 cm dari permukaan lumpur. Lumpur diratakan dengan sorok/kayu untuk selanjutnya dibiarkan selama beberapa hari. Proses ini di ulangi 2 – 3 kali hingga lumpur halus yang ada di kolam cukup banyak.

Kegiatan Budidaya Cacing sutra dilakukan secara sederhana sehingga dapat dilakukan oleh Unit Pembenihan Rakyat (UPR). Persyaratan yang harus dipunyai adalah tersedianya limbah air pembuangan dari kolam hasil budidaya/pembesaran ikan Lele yang siap untuk dipanen. Tahapan yang dilakukan sebagai berikut :

3. Cara Penyiapan Kolam Ternak Cacing Sutra
Kolam yang kurang produktif (tidak dipakai untuk budidaya lele) di areal usaha pembesaran ikan lele dapat diperuntukan untuk budidaya cacing sutera dengan luas 60 – 100 m2 (disesuaikan dengan areal yang ada). Kolam ini dikeringkan dan diolah. Air limbah kolam pembesaran lele diaduk-aduk untuk selanjutnya dimasukkan dengan pompa (dengan menyedot) ke kolam budidaya cacing sutera. Berdasarkan hasil uji sample air kolam ikan lele yang akan di panen (seminggu sebelum panen) oleh Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Laut Lampung pada bulan Juli 2010, air kolam tersebut mengandung mikro algae : Coelosphacrium sp (1,6 x 103), Lyngbya (2,35 x 103) dan Sprirulina sp (2,25 x 103).

Cacing akan tumbuh setelah 2 minggu biang cacing sutera ditebar atau > 2 bulan apabila tanpa penebaran biang cacing sutera. Panen pertama dapat dilakukan setelah cacing berumur > 75 hari. Untuk selanjutnya dapt dipanen setiap 15 hari. Ciri kolam budidaya cacing yang siap untuk di panen adalah apabila lumpur sebagai media pemeliharaan terasa kental bila dipegang.

Budidaya Cacing Sutra Cepat Berhasil


4. Panen Cacing Sutra
Panen cacing sutera dilakukan pada pagi/sore hari dengan cara menaikkan ketinggian air sampai 50-60 cm agar cacing naik sehingga mudah dipanen. Cacing dan lumpur di keruk/aduk dengan caduk/garu dimasukkan dalam baskom kemudian dicuci dalam saringan. Cacing yang terangkat masih bercampur lumpur, selanjutnya dimasukkan dalam ember/bak yang berisi air dengan ketinggian lebih kurang 1(satu) cm diatas media lumpur. Ember ditutup agar bagian dalam menjadi gelap dan dibiarkan selama 1 – 2 jam. acing akan bergerombol diatas media dan dapat diambil dengan tangan untuk dipisahCkan dari media/lumpur. Cacing tersebut dimasukkan dalam bak pemberokan selama 10-12 jam. Cacing siap di berikan kepada benih ikan ataupun dijual.

Cacing sutra tergolong ke dalam oligochaeta telah menjadi incaran untuk dibudidayakan karena memiliki kemampuan untuk hidup pada densitas yang tinggi dan memiliki kesanggupan untuk bertahan pada lingkungan dengan kelarutan oksigen yang sangat rendah. Kebutuhan akan cacing sutra sebagai pakan alami sangat diperlukan karena biota ini sangat bernutrisi dengan nilai protein yang tinggi (58,68%) (Oz et al., 2015), menunjang pertumbuhan, memperpanjang masa reproduksi dan menstimulasi pemijahan ikan.

Beternak Cacing dengan Sistim Air Mengalir

Budidaya cacing ini sangat penting diupayakan karena perolehan dari perairan alami ditemukan banyak telah terkontaminasi oleh logam berat (Singh et al., 2007). Dalam kegiatan praktek kerja lapang ini, hasil yang diperoleh melalui panen yang dilakukan secara bertahap yaitu setiap dua minggu (pada hari ke-14), diperoleh biomassa cacing sutra rata-rata sebanyak 150 gram/m2. Hasil ini berbeda dengan yang diperoleh Kusumorini dkk. (2017) di mana dengan pemberian kotoran ayam yang difermentasikan diperoleh biomassa cacing sutra 17,32 gram pada hari ke-20, dengan pada penebaran awal 10 gram/0,091 m2.

Perbedaan media sangat menentukan hasil biomassa cacing sutra, di mana ketersediaan makanan sangat memegang peranan penting di samping karakteristik substrat sebagai tempat untuk berreproduksi (Solang dkk., 2014; Jewel et al. 2016). Hasil kerja praktek lapang menunjukkan pertambahan biomassa cacing sutra yang baik, karena di samping pemberian kotoran ayam yang difermentasi dengan EM4, diberikan pula ampas tahu sebagai pakan tambahan.

Herliwati (2012) dan Singh et al. (2010) telah membuktikan bahwa pertumbuhan populasi cacing sutra sangat baik ketika diberikan kotoran ayam sebagai media. Diketahui kotoran ayam yang terfermentasi memiliki nilai protein kasar sebesar 55,6% (Pamungkas dkk., 2012). Selanjutnya, Chilmawati dkk. (2015) menyatakan bahwa cacing sutra dapat memanfaatkan protein ampas tahu secara mudah.

Hasil ini juga didukung oleh Solang dkk. (2014) yang menemukan pertumbuhan cacing sutra tertinggi terdapat pada media dengan kombinasi lumpur dan ampas tahu. Ampas tahu memiliki nilai protein kasar sebesar 17,4% (Suprapti 2005 dalam Nahak, 2016). Selanjutnya, dijumpai bahwa, ampas tahu memiliki nilai karbohidrat sebesar 69,41%. Kandungan karbohidrat yang cukup besar ini dapat dimanfaatkan oleh cacing sutra sebagai sumber energi untuk pertumbuhannya. Selain itu, bakteri dan mikroorganisme lainnya juga dapat memanfaatkan glukosa sederhana sebagai hasil fermentasi dalam memperbanyak sel guna melakukan perombakan pada media (substrat) untuk menyediakan bahan organik sebagai pakan cacing sutra.

Bahkan, dikatakan cacing sutra juga mengkonsumsi bakteri perombak substrat (Singh et al., 2010). Parameter kualitas air yang diukur adalah DO, suhu dan pH, dengan hasil pengukuran masing-masing parameter berturut-turut adalah ± 1,61 ppm, 24,4- 27,7ºC dan 6,1-7,3. Di antara ketiga parameter ini, suhu sangat berpengaruh bagi reproduksi cacing sutra. Beberapa spesis (Limnodrilus hoffmeisteri, B. Sowerbyi, dan Tubifex tubifex) dari cacing ini dijumpai bertelur dan memiliki kepompong dengan jumlah terbanyak pada suhu sekitar 25ºC (Haroldo dan Aves, 2009) dan Hosain et al. (2011) mendapatkan bertumbuh dengan baik pada kisaran suhu 23-27ºC.

Hasil penelitian oleh Fadhlullah dkk. (2017) menemukan bahwa cacing sutra tumbuh dengan baik pada DO dengan kisaran 0,2-5,5 ppm dan kisaran pH 6-7,6 (Syam, 2012). Sekalipun cacing sutra dapat ditemukan pada daerah terpolusi dengan kualitas air yang sangat rendah, akan tetapi dalam kondisi kultur, biota ini membutuhkan ruang lingkup yang spesifik seperti bersih dari sampah dengan kandungan oksigen dan suhu yang layak untuk tumbuh dan berreproduksi.

Panen Budidaya Cacing Sutra Cepat Berhasil

0 Response to "4 Langkah Praktis Budidaya Ternak Cacing Sutra Cepat Berhasil"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel