-->

Cara Termudah Obati Penyakit Berak darah Pada Ayam Kampung, Bangkok dan Broiler

Berak darah atau sering disebut dengan koksidiosis disebabkan oleh protozoa dari genus Eimeria. Penularan penyakit ini dapat melalui kontak secara langsung maupun tidak langsung seperti kontak dengan droplet dari unggas yang terinfeksi. Pada saat unggas memakan koksidia, organisme ini akan menginvasi usus dan mengakibatkan kerusakan dan kemudian mulai berkembang biak. Beberapa minggu setelah terjadinya infeksi, koksidia akan berubah menjadi oocyst. Oocyst masih belum cukup matur, meskipun  oocyst  terdapat pada droplet, oocyst ini tidak dapat menginfeksi unggas lain kecuali ia berkembang  (sporulasi) menjadi bentuk yang lebih matang di litter. Bentuk inilah yang dapat menyebabkan infeksi pada unggas. Berat tidaknya penyakit ini tergantung dari jumlah protozoa yang termakan. Di dalam peternakan, penyakit ini sangat mudah ditularkan melalui alas kaki, baju, burung liar, peralatan, tempat pakan, serangga atau rodent. 

Koksidiosis merupakan penyakit yang menyebabkan kerusakan di saluran percernaan, terutama di usus halus dan sekum. Hal ini akhirnya berdampak terhadap proses pencernaan dan penyerapan zat nutrisi yang tidak optimal, sehingga berujung menimbulkan kerugian berupa pertumbuhan berat badan rendah, penurunan produksi telur, serta kematian (mortalitas) yang tinggi hingga mencapai 80-90%. Selain itu, koksidiosis juga dapat menimbulkan efek imunosupresif yang menjadikan ayam rentan terhadap infeksi penyakit lainnya.

Ayam yang terserang koksidiosis awalnya akan menampakkan gejala klinis seperti mengantuk, sayap terkulai ke bawah, bulu kasar (tidak mengkilat) dan nafsu makan rendah (anorexia). Untuk infeksi E. tenella biasanya terjadi secara akut, terjadi berak darah dan dapat menimbulkan kematian. Infeksi E. maxima menyebabkan feses mengandung eksudat kental berwarna kemerahan dan bercampur bintik-bintik darah.

Gejala yang timbul pada penyakit ini adalah seperti:
- kotoran lembek cenderung cair dan berwarna coklat kehitaman kerena mengandung darah
- pertumbuhan terhambat
- napsu makan menurun
- pada pembedahan ayam yang mengalami kematian akibat penyakit ini akan ditemukan pada usus besarnya akan bengkak berisi darah.
Pencegahan dapat dilakukan dengan cara memberikan vaksinasi pada ayam pada usia 4 hari. Biasanya kami akan memberikan vaksinasi ini dengan melakukan penyemprotan pada pakan. Selain itu harus dilakukan sanitasi yang baik pada kandang DOC. Pilihlah pakan yang sudah mengandung koksidiostat ( preparat pembunuh protozoa Eimeria).

1. Memberantas ookista
Untuk mencegah koksidiosis, harus dicermati bahwa protozoa/koksidia penyebabnya memiliki siklus hidup yang panjang untuk menjadi sebuah individu Eimeria sp. yang utuh. Oleh karena itu, pengendalian paling efektif yang pertama harus dilakukan ialah memotong rantai siklus hidupnya sehingga ia tidak bisa berkembang lebih lanjut. Berawal dari ookista yang dikeluarkan bersama dengan feses ayam, jika lingkungan sekitar lembab dan basah, ookista akan terus berkembang dan bersporulasi hingga akhirnya bisa menginfeksi ayam. Agar ookista tidak lanjut bersporulasi, peternak harus melakukan sanitasi dan desinfeksi secara ketat. Tapi sayangnya, ookista relatif tahan terhadap desinfektan yang banyak dijual di pasaran.

Tidak hanya tahan terhadap banyak desinfektan, ookista juga sulit diberantas karena ukurannya yang sangat kecil sehingga ia mudah diterbangkan oleh angin dan tersebar kemana-mana. Ookista juga mudah terbawa oleh peralatan kandang, serangga atau burung liar hingga tersebar ke wilayah lain.

Meski begitu, masih ada cara yang bisa kita gunakan untuk memberantas ookista. Cara tersebut yaitu memberikan kapur atau soda kaustik pada permukaan litter yang lembab dan basah. Kapur dan soda kaustik merupakan bahan aktif yang bersifat basa. Ketika kedua bahan tersebut larut dalam air atau media yang basah (litter basah, red), maka akan dihasilkan panas yang tinggi. Sementara, ookista tidak tahan terhadap suhu ekstrim panas > 55ÂșC. Ookista juga dapat mati jika berada pada kondisi suhu sangat dingin (suhu beku) dan kekeringan yang ekstrim.

2. Manajemen pemeliharaan ayam
Perhatikan suhu, kelembaban, ventilasi, kepadatan kandang serta kualitas litter atau sekam. Dalam manajemen litter, lakukan pembolak-balikan litter untuk mencegah litter basah. Pada masa brooding, pembolak-balikkan litter dilakukan secara teratur setiap 3-4 hari sekali mulai umur 4 hari sampai umur 14 hari. Segera ganti litter yang basah dan menggumpal. Jika jumlah yang menggumpal sedikit, maka dapat dipilah dan dikeluarkan dari kandang. Namun jika jumlah litter yang menggumpal atau basah sudah banyak, lebih baik tumpuk dengan litter yang baru hingga yang menggumpal tidak tampak.

Berikan ransum dengan kualitas dan kuantitas yang sesuai dengan kebutuhan ayam. Jika melakukan self mixing, hindari penggunaan tepung ikan atau pollard berlebihan karena kandungan protein yang terlalu tinggi dalam bahan pakan tersebut bisa menyebabkan feses encer dan litter cepat basah.

3. Memberikan koksidiostat
Langkah pencegahan koksidiosis selanjutnya yang dapat diterapkan ialah memberikan koksidiostat secara terus-menerus pada ransum. Pemberian koksidiostat pada ransum dimaksudkan untuk mengontrol dan menekan perkembangan koksidia sampai level rendah (tidak mengakibatkan outbreak penyakit). Contoh koksidiostat yang digunakan ialah antibiotik golongan ionofor (monensin, salinomycin, narasin, maduramycin). Beberapa pabrik pakan diketahui sudah menambahkan koksidiostat ke dalam ransum yang diproduksinya. Meski demikian, karena koksidiostat diberikan dalam waktu lama, maka perlu dilakukan rolling koksidiostat yang diberikan. Jika tidak, maka koksidia akan resiten dan koksidiostat tidak akan mempan menangkal serangan ookista di dalam tubuh ayam.

Baca Juga :

Cara Mudah Mengobati Penyakit Brak darah Pada Ayam (Koksidiosis) : 
Ayam yang terserang koksidiosis bisa diobati dengan pemberian obat antikoksidia. Pemberian antikoksidia dimaksudkan untuk mengontrol dan menekan perkembangan Eimeria dalam tubuh ayam sehingga jumlahnya yang ada di tubuh ayam bisa ditekan dalam level rendah. Saat ini berbagai macam produk antikoksidia sudah banyak diproduksi, baik dari golongan sulfa/sulfonamide, amprolium, maupun generasi baru seperti toltrazuril. Namun yang harus benar-benar diperhatikan ialah dosis dan aturan pakai, serta peringatan yang tercantum pada label obat. Hal ini untuk mencegah resistensi spesies Eimeria. Munculnya strain Eimeria yang resisten terhadap antikoksidia dapat menimbulkan masalah besar bagi peternak. Kasus koksidiosis yang terus berulang adalah salah satu dampaknya. Sebaiknya lakukan rolling menggunakan antikoksidia dari golongan yang berbeda setiap interval 3-4 kali pengobatan.

Berikut penjelasan mengenai beberapa contoh antikoksidia yang bisa digunakan oleh peternak guna mengobati koksidiosis.

1. Sulfonamide:
Antikoksidia yang masuk ke dalam golongan sulfonamide di antaranya sulfadiazine, sulfadimethylpirimidine, sulfaquinoxaline, sulfamonomethoxine, sulfadimethoxine, dsb. Antikoksidia golongan ini lebih efektif untuk mengatasi Eimeria yang menyerang bagian usus halus (E. acervulina, E. maxima, E. necratix, E. brunetti, E. mitis). Namun sulfaquinoxaline dan sulfadimethylpirimidine efektif juga untuk Eimeria usus buntu (E. tenella). Semua antikoksidia golongan sulfonamide bekerja memutus siklus hidup Eimeria yaitu dengan mengganggu proses reproduksi aseksual Eimeria. Dengan demikian, sporozoit akan dibasmi dan tidak mampu untuk memperbanyak diri. Karena hanya merusak sebagian proses siklus hidup Eimeria, maka antikoksidia golongan sulfa harus diberikan dengan sistem 3-2-3 (3 hari diberikan, 2 hari berhenti dan 3 hari diberikan lagi). Potensi obat sulfanamide akan meningkat 10 kali jika dikombinasikan dengan golongan diamino pyrimidine (trimetoprim, pyrimethamin). Contoh produknya ialah Coxy dan Sulfamix (sulfonamide tunggal), Antikoksi, Duoko, dan Trimezyn (sulfonamide kombinasi).

2. Thiamine antagonist:
Salah satu antikoksidia yang termasuk ke dalam golongan thiamine antagonist adalah amprolium. Jika dikombinasikan dengan sulfaquinoxaline dapat memperluas spektrum kerja dan meningkatkan potensi membasmi Eimeria usus halus dan sekum. Mekanisme kerja dari amprolium ini sama dengan antikoksidia golongan sulfonamide, yaitu mengganggu proses reproduksi aseksual Eimeria sp. Produk yang mengandung amprolium contohnya Therapy dan Koksidex.

3. Toltrazuril:
Toltrazuril merupakan antikoksidia golongan triazinetrione. Berbeda dengan antikoksidia sulfonamide dan amprolium, toltrazuril bekerja efektif dengan cara mengganggu fungsi mitokondria, yaitu dengan menghambat aktivitas enzim pada rantai pernapasan sel sehingga akan menyebabkan kematian pada semua tahap perkembangan sel Eimeria sp. (reproduksi seksual maupun aseksual). Contoh produk terbaru Medion yang mengandung toltrazuril adalah Toltradex.

Selain pemberian antikoksidia, tindakan lain yang harus dilakukan saat menghadapi koksidiosis di antaranya:
a. Berikan vitamin A dan K untuk terapi supportif. Vitamin A berfungsi mempercepat kesembuhan epitel mukosa usus yang rusak. Sedangkan vitamin K akan mengurangi pendarahan yang terjadi.
b. Jika memungkinkan, buang feses bercampur darah dari ayam yang sakit untuk menghindari ayam lain mematuknya. Hal ini karena warna merah pada feses akan menarik perhatian ayam lain untuk mematuk dan terjadilah proses penularan penyakit koksidiosis.
c. Lakukan manajemen penanganan litter dengan baik agar litter kering.
d. Hindari pemeliharaan ayam dengan kepadatan tinggi, maksimal 8 ekor/m2 untuk kandang postal.
e. Saat persiapan kandang, terutama untuk kandang postal, lakukan pengapuran lantai untuk mengurangi jumlah ookista yang ada.


Sekian Cara Termudah Mengobati Penyakit Berak darah Pada Ayam Kampung, Bangkok maupun Broiler. Semoga Bermanfaat

0 Response to "Cara Termudah Obati Penyakit Berak darah Pada Ayam Kampung, Bangkok dan Broiler "

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel