-->

Cara Mudah Obati Penyakit Berak Kapur dan Hijau Pada Ayam Kampung, Bangkok dan Broiler

Anak ayam terlihat pucat, lemah, kedinginan dan suka bergerombol mencari tempat yang hangat atau ayam dewasa anda menagalami gejala berak kapur tidak nyata benar. Ayam dewasa yang terkena berak kapur akan mengalami penurunan produktivitas telur, depresi, anemia, kotoran encer dan berwarna kuning. Berak kapur bisa disebabkan oleh 2 bakteri pertama bakteri Salmonella pullorum dan Gumboro. Di banding ayam dewasa penyakit berak kapur sering ditemukan pada anak ayam umur 1-10 hari.

Cara Mudah Obati Penyakit Berak Kapur dan Hijau Pada Ayam Kampung, Bangkok dan Broiler

Sebelum anda mengobati sebaiknya mendiagnosa penyakit berak kapur tersebut karena ada 2 penyebab yang menyebabkan:

1. Salmonellosis (pullorum)
Pullorum disebabkan oleh bakteri Salmonella pullorum yang dapat ditularkan dari induk melalui telur. Penyakit pullorum identik dengan berak kapur dan sering menyerang pada anak ayam. Kematian mencapai 80% dan puncak kematian pada umur 2-3 minggu setelah menetas. Ayam akan terlihat mengantuk, lemah, nafsu makan hilang dan ayam terlihat bergerombol di suatu tempat.
Pada Umumnya gejala yang timbul adalah :
- napsu makan menurun
- kotoran encer dan bercampur butiran-butiran putih seperti kapur
- bulu dubur melekat satu dengan yang lain
- jengger berwarna keabuan
- badan anak ayam menjadi menunduk
- sayap terkulai
- mata menutup

Ayam mengeluarkan kotoran berwarna putih menyerupai kapur (pasta) dan terkadang menempel pada dubur ayam. Pada perubahan bedah bangkai akan terlihat hati berwarna kuning dan keras karena pembengkakan. Pada saluran pencernaan tampak bintik-bintik putih terutama pada mesenterium (penggantung usus,red) dan otot ventrikulus serta sekum atau usus buntu penuh dengan massa berbentuk keju

2. Gumboro
Gumboro sering menyerang ayam umur 21-35 hari. . Penyakit Gumboro menyebabkan kotoran berwarna putih. Ayam terlihat  gemetar/menggigil, nafsu makan turun dan tingkat kesakitan mencapai 100% sedangkan tingkat kematian hingga 30%. Dari hasil bedah bangkai akan ditemukan perdarahan bentuk garis di otot dada atau paha, ginjal membengkak, terdapat bintik-bintik perdarahan di perbatasan antara proventrikulus dan ventrikulus serta terjadi perubahan spesifik yaitu pada bursa Fabricius. Bursa Fabricius terlihat membengkak disertai bintik-bintik perdarahan.

Cara Mudah Obati Penyakit Berak Kapur dan Hijau Pada Ayam Kampung, Bangkok dan Broiler

Dalam menangani kasus tersebut, apabila terindikasi penyakit bakterial (pullorum) maka dapat dilakukan pengobatan dengan antibiotik spektrum luas seperti Therapy, Koleridin, Vita Tetra Chlor, Respiratrek, Neo Meditril atau Trimezyn-S (pilih salah satu). Setelah pemberian obat selesai berikan vitamin (Vita Stress, Fortevit atau Strong n Fit) untuk membantu mempercepat proses penyembuhan penyakit.

Namun jika terindikasi penyakit viral (Gumboro), berikan air gula 2-5% (20-50 gram per liter air minum) selama 3 hari untuk memberikan suplai energi. Jika kondisi ginjal mengalami kebengkakan dan peradangan maka lakukan terapi supportif dengan memberikan Gumbonal selama 3 hari. Pemberian Gumbonal berfungsi mengurangi angka kematian saat kasus Gumboro akibat pembengkakan ginjal, mengobati infeksi sekunder pada kasus Gumboro dan sebagai antiseptik di saluran kemih. Selain itu, berikan pula antibiotik untuk mengatasi infeksi sekunder bakteri. Pemilihan antibiotik perlu dilakukan dengan benar karena kasus Gumboro dapat menyebabkan kebengkakan ginjal, sehingga kita perlu memilih antibiotik yang tidak menimbulkan efek samping memperparah kerja ginjal (misal: Neo Meditril, Koleridin atau Doxytin). Setelah pemberian antibiotik, berikan vitamin seperti Vita Stress atau Fortevit untuk memulihkan stamina ayam.

Baca Juga:


2. Berak Hijau
Cara Mudah Obati Penyakit Berak Kapur dan Hijau Pada Ayam Kampung, Bangkok dan Broiler

Selama ini penyakit ini diduga disebabkan oleh bakteri sejenis Salmonella pullorum. Penularan berak hijau  sangat mudah yaitu melalui kontak langsung termasuk saat jantan mengawini betina dan melalui pakan dan minuman yang terkontaminasi dengan ayam yang sakit. Pengaruh penyakit ini dapat sampai ke DOC keturunan induk yang sakit.
Gejala penyakit ini adalah:
- jengger berwarna biru
- mata lesu
- napsu makan menurun
- sekitar pantat terlihat memutih dan lengket.

Upaya pencegahan merupakan hal utama antara lain dengan menjaga sanitasi kandang, memisahkan antara ayam yang sakit memberikan pakan yang yang baik. Jika ayam yang terinfeksi mengalami kematian, lebih baik ayam tersebut dibakar agar bakteri tersebut ikut mati dan tidak menular ke ayam yang lain.

Sebagiamana dilansir dari Beon.co.id Jika ditelaah lebih dalam, masing-masing faktor penyebab tersebut akan menghasilkan feses warna hijau dengan tekstur yang berbeda-beda. Beberapa yang memiliki karakteristik tersebut ialah AI yang menyebabkan feses warna hijau pupus (hijau muda) berbentuk pasta dan berlendir. Feses ND akan berbentuk diare hijau lumut dan tidak berlendir. Sedangkan pada kolera, gejala feses hijau muncul pada kondisi akut dimana feses berbentuk cair (diare), hijau dan berlendir (Disease of Poultry, 1997). Meski begitu, disarankan untuk tidak menjadikan gambaran feses hijau menjadi patokan utama dalam mendiagnosa penyakit karena tergantung kepekaan dan pengalaman seseorang dalam mendiagnosa.


Dianjurkan agar anda tetap menggali informasi sebanyak mungkin tentang gejala penyakit yang lainnya baik melalui pola penyebaran, gejela klinis dan bedah bangkai. Penyebab feses hijau dapat dibagi menjadi dua yaitu :

1.   Non infeksi
Feses hijau akan muncul saat ayam tidak memperoleh pakan. Feses hijau akan mulai muncul + 13 jam setelah ayam dipuasakan (di dalam saluran pencernaan tidak ada pakan). Ayam akan mengalami diare kehijauan dan berlendir (www.mb.gov.ca). Beberapa kondisi yang dapat ditemukan feses hijau ini antara lain saat DOC baru datang ke kandang, saat ayam petelur dipuasakan secara paksa dengan tujuan peremajaan kembali (force molting) maupun saat pengiriman ayam afkir/ panen dari farm ke lokasi pemotongan ayam.

Khusus untuk DOC saat chick in terutama yang belum diberi pakan, warna feses dari coklat hingga kehijauan dikatakan normal. Hal ini karena pencernaan DOC belum berjalan baik, begitupula dengan flora normal di usus yang belum berkembang dengan baik. Ditambah lagi, ayam belum diberi asupan pakan dari luar sehingga saluran pencernaan kosong. Namun jika hingga beberapa jam setelah diberi pakan, feses masih tetap hijau, perlu diadakan pemeriksaan lebih lanjut.

Satu hal yang membedakan antara feses hijau karena infeksi dengan non infeksi ialah nafsu makan. Pada kasus non infeksi, nafsu makan ayam baik. Hal ini diperlihatkan oleh ayam yang mematuk-matuk litter atau benda-benda di sekitarnya untuk mencari pakan.

2.   Infeksi
Feses hijau yang dikarenakan infeksi selalu disertai gejala klinis dan perubahan gambaran bedah bangkai. Penurunan nafsu makan karena infeksi bisa menjadi pemicu awal terjadinya feses hijau. Beberapa dari infeksi tersebut seperti:

a.   Newcastle disease (ND)
Gejala feses hijau lebih sering terjadi karena infeksi virus ND golongan vvND (velogenic viscerotropic Newcastle Disease). Selain itu, ditemukan pula gejala penurunan kualitas dan kuantitas telur. Terjadi kematian yang cukup tinggi. Peradangan di puncak bintil-bintil proventrikulus, di lemak jantung dan peyer patches usus halus juga terlihat pada bedah bangkai.

b.   Avian Influenza (AI)
Gejala klinis yang biasa ditemui ialah penurunan produksi telur dan terjadi kematian. Pada bedah bangkai ditemukan adanya perdarahan di usus halus, lemak jantung, perbatasan esofagus dan proventrikulus.

c. Malaria like
Gejala lain yang muncul ialah ayam lesu, anemia, penurunan produksi telur dan kadang disertai kematian. Pada bedah bangkai ditemukan radang pada ginjal, limpa membesar dan adanya bintik-bintik perdarahan pada organ dalam tubuh serta otot dada. Dan yang lebih penting lagi, ditemukan vektor penyebarnya yaitu Culicoides sp. (bentuk seperti nyamuk besar, menghisap darah dan sayap bertotol) di sekitar kandang. Pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan menjaga sanitasi mulai dari mesin penetasan hingga sanitasi kandang dan melakukan desinfeksi kandang dengan formaldehyde sebanyak 40%. Ayam yang terkena penyakit sebaiknya dipisahkan dari kelompoknya, sedangkan ayam yang parah dimusnahkan.

d.  Fowl Cholera (AI)
Gejala feses kehijauan cenderung terjadi pada ayam yang sakit fowl cholera akut (Disease of Poultry, 1997). Gejala ini juga disertai dengan kebiruan pada jengger dan pial, hati bengkak serta nafsu makan menurun, leleran hidung. Biasanya terjadi kematian dalam beberapa hari.

Obat paling ampuh atau mujarab ialah pengobatan yang cepat dan tepat sasaran (sesuai penyebabnya). Oleh karena itu, segera lakukan penggalian informasi sebanyak-banyaknya setelah mengetahui adanya gejala feses kehijauan. Kemudian lakukan penanganan sesuai penyebabnya.

Jika penyebabnya karena ayam tidak makan maka segera berikan pakan. Jika terpaksa melakukan tindakan pemuasaan (pakan) sebaiknya tidak terlalu lama (+4-6 jam) dan menghindari pemberian air minum berlebih saat pemuasaan. Air minum yang berlebih akan mempercepat pengosongan saluran pencernaan sehingga mempercepat pergesekan permukaan usus. Hal ini akan merangsang dikeluarkannya cairan empedu dan menyebabkan feses berwarna hijau (www.mb.gov.au). Segera setelah ayam dipuasakan berikan air minum ditambah gula dan Strong n Fit serta berikan pakan untuk memulihkan kondisi tubuh dan mengisi saluran pencernaan yang kosong. Disarankan di saat tersebut, diberikan pakan yang berbentuk mash atau serbuk agar lebih mudah dicerna oleh saluran pencernaan.

Karena disebabkan oleh virus, ayam yang terinfeksi ND atau AI tidak bisa diobati. Yang bisa dilakukan ialah melakukan tindakan revaksinasi darurat terhadap ayam sehat. Gunakan Medivac ND Clone 45 sebagai revaksinasi darurat untuk merangsang pembentukan antibodi ND secara cepat. Hal sama juga berlaku jika ayam terserang AI dengan menggunakan Medivac AI. Tujuannya ialah agar ayam yang masih sehat bisa segera membentuk antibodi. Antibodi yang terbentuk akan bersaing dengan virus lapang untuk berikatan dengan reseptor (tempat berikatan,red) di sel target. Semakin cepat antibodi terbentuk maka semakin sedikit virus yang berikatan dengan sel target. Lakukan juga pengafkiran terhadap ayam yang sakit agar tidak menularkan virus ke ayam sehat.

Jika ayam terjangkit kolera, lakukan pengobatan menggunakan antibiotik misalnya Koleridin, Ampicol, Neo Meditril, dll. Sedangkan untuk kasus “malaria like”, ayam bisa diberikan Maladex melalui air minum. Berikan obat sesuai aturan pakai dan dosis agar hasil lebih maksimal.

Lebih penting lagi ialah memperketat biosekuriti termasuk manajemen pemeliharaan dan pembasmian vektor (pembawa penyakit). Salah satunya ialah membersihkan feses secara rutin. Tindakan ini akan menghilangkan tempat berkembang biak vektor penyakit. Selain itu, tindakan tersebut bisa berfungsi sebagai kontrol terhadap kondisi ayam melalui fesesnya karena semakin cepat gejala feses hijau ditemukan semakin cepat penanganannya.


Lakukan juga pembasmian serangga di sekitar peternakan dengan antiparasit seperti Larvatox. Selain membasmi larva lalat, Larvatox juga akan membantu pengeringan feses. Berikan vitamin seperti Vita Stress, Vita Strong, Strong n Fit atau Fortevit untuk menjaga daya tahan tubuh dan mempercepat pemulihan tubuh ayam.

source :
Medion.co.id
Artikel peternakan

0 Response to "Cara Mudah Obati Penyakit Berak Kapur dan Hijau Pada Ayam Kampung, Bangkok dan Broiler"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel